Megalitikum Pagaralam, Jejak Peradaban Prasejarah di Dataran Tinggi Pasemah

Megalitikum Pagaralam

Megalitikum Pagaralam

Megalitikum Pagaralam bukan sekadar kumpulan batu tua, melainkan sebuah peradaban besar yang menunjukkan tingginya budaya masyarakat prasejarah di dataran tinggi Pasemah (Basemah). Wilayah ini bahkan dianggap sebagai salah satu pusat kebudayaan megalitik terpenting di Asia Tenggara, menyimpan ribuan artefak yang tersebar di hamparan perbukitan dan persawahan.

Para peneliti dari Belanda seperti Van der Hoop, Ullmann, dan Westenenk telah lama terpikat oleh kompleksitas situs ini. Mereka mendokumentasikan temuan-temuan spektakuler yang kemudian membuka mata dunia akan keberadaan peradaban maju di Bumi Besemah . Bahkan, peneliti dari Balai Arkeologi Palembang terus menemukan situs-situs baru setiap tahunnya, membuktikan bahwa kekayaan sejarah di Pagar Alam belum sepenuhnya terungkap.

Masyarakat pendukung budaya megalitikum di Pasemah sudah memiliki kemampuan artistik yang sangat tinggi. Mereka memahat batu andesit yang keras menjadi berbagai bentuk dengan detail yang mengagumkan. Gaya perupaannya bersifat dinamis-piktorial dengan kecenderungan realistik, sesuatu yang sangat maju untuk ukuran zaman itu. Patung-patung megalitik Pasemah menggambarkan seluruh anggota badan secara lengkap, baik manusia maupun binatang, dengan sikap tubuh condong ke depan dan kepala sedikit menengadah seolah sedang berkomunikasi dengan kekuatan di atas mereka.

Jejak Peradaban Megalitikum Pagaralam

Saat kamu melangkahkan kaki di area persawahan Desa Tegur Wangi, kamu akan disambut oleh pemandangan yang tak biasa. Di sela-sela tanaman padi yang menghijau, berdiri kokoh batu-batu besar yang dikenal dengan sebutan Batu Beghibu atau Batu Beribu. Nama ini berasal dari tradisi kuno ketika masyarakat meletakkan sesaji di depan arca saat ada sesepuh yang meninggal. Jenazah akan dihiasi pakaian adat dan perhiasan yang disebut beghibu, yaitu subang atau anting-anting bertakhtakan berlian, sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Situs Megalitikum Pagaralam tidak hanya terdiri dari satu bentuk peninggalan. Kamu akan menemukan berbagai artefak dengan fungsi dan makna yang berbeda-beda. Arca manusia menunggang gajah di Situs Tegur Wangi misalnya, menggambarkan hubungan erat antara manusia dan alam, sekaligus menunjukkan stratifikasi sosial masyarakat pada masa itu. Sementara itu, bilik batu atau kubur batu yang ditemukan di kebun kopi warga menjadi bukti adanya ritual penguburan yang rumit dan sakral. Salah satu bilik batu yang ditemukan bahkan berukuran sangat besar, dengan panjang mencapai empat meter.

Di situs Belumai, kamu dapat menyaksikan langsung batu berelief yang dikenal dengan sebutan Batu Gajah. Kondisinya masih sangat utuh dan terpelihara dengan baik. Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi sengaja merelokasi dan merawat batu ini agar keasliannya tetap terjaga. Tidak jauh dari sana, terdapat juga lesung batu, tetralith (batu bersusun empat), dan enclosure stone atau batu gelang yang tersebar di areal persawahan dan perkebunan kopi milik warga.

Situs Tanjung Aro menyimpan cerita yang berbeda. Di tengah persawahan, kamu akan menemukan arca manusia dililit ular. Legenda setempat mengisahkan tentang sepasang kekasih yang melanggar adat, kemudian mendapat kutukan dari seekor ular murka hingga tewas dan membatu. Menariknya, pada masa penjajahan Jepang, puluhan tentara dikerahkan untuk mengambil arca ini. Mereka menggunakan alat berat, namun semua upaya itu gagal. Arca tersebut tidak bergeser sedikit pun dan tetap berada di tempatnya hingga sekarang.

Keunikan dan Karakteristik Megalitikum Pagaralam

Para ahli membedakan arca megalitikum Pagaralam ke dalam dua jenis utama. Pertama, penggambaran sosok tunggal yang bisa berupa manusia atau hewan secara terpisah. Kedua, penggambaran sosok jamak yang lebih kompleks, seperti manusia dengan manusia atau manusia dengan hewan dalam satu komposisi pahatan. Keunikan inilah yang menjadikan megalitikum Pasemah berbeda dari temuan serupa di daerah lain Indonesia.

Penelitian dari Institut Teknologi Bandung mengungkapkan bahwa manusia pendukung budaya megalitik di Besemah sudah mengenal dan memanfaatkan alat kerja dari bahan logam, khususnya perunggu. Kemampuan mereka dalam memahat batu andesit menghasilkan sudut-sudut yang tajam dan runcing, sesuatu yang mustahil dilakukan tanpa teknologi logam yang memadai. Mereka tidak mengenal pengulangan bentuk yang sama—setiap patung bersifat tunggal atau unik, tidak ada duplikat persis di situs manapun.

Ciri khas lainnya terletak pada penggambaran alat-alat perunggu dalam pahatan batu. Nekara, yang merupakan budaya Dongson dari Vietnam, terpahat jelas pada beberapa arca. Ini membuktikan bahwa ribuan tahun lalu, masyarakat Pasemah telah terlibat dalam jaringan pertukaran budaya yang luas, bahkan hingga ke Asia Tenggara daratan. Arus globalisasi kuno ini membuat megalitikum Besemah tampil sangat sophisticated dengan pahatan-pahatan yang maju pada zamannya.

Dari segi lingkungan, situs-situs megalitikum Pagaralam menempati posisi geografis yang beragam. Ada yang terletak di puncak bukit seperti situs Tinggihari dan Gunungkaya, ada pula yang berada di lembah seperti situs Belumai dan Tegurwangi. Keberadaan Gunung Dempo yang masih aktif hingga kini memberikan kesuburan tanah melalui abu vulkanik dan menyediakan batuan andesit yang melimpah untuk bahan pembuatan arca.

Nilai Spiritual dan Mitos yang Hidup di Masyarakat

Bagi masyarakat megalitikum Pasemah, kematian seseorang bukanlah akhir dari segalanya. Mereka meyakini adanya kehidupan setelah kematian, di mana arwah leluhur akan bersemayam di tempat-tempat tinggi dan melindungi keturunan mereka yang masih hidup. Keyakinan ini melahirkan tradisi pemujaan leluhur yang diwujudkan dalam bentuk arca dan bangunan batu.

Ketika seorang tokoh sepuh meninggal dunia, masyarakat akan mengadakan upacara adat yang rumit. Jenazah dihias dengan pakaian dan perhiasan terbaik, kemudian dimasukkan ke dalam kubur batu. Di depan arca, dolmen, dan menhir, mereka meletakkan sesaji sebagai bekal perjalanan arwah ke alam baka. Tempat-tempat yang digunakan untuk upacara ini, seperti Desa Tegur Wangi Lama, sejak dulu dianggap suci dan sakral hingga sekarang.

Hingga kini, mitos dan legenda masih melekat erat dalam pandangan masyarakat Pagaralam terhadap situs-situs megalitikum. Di Tegurwangi, masyarakat mempercayai bahwa batu-batu tersebut merupakan hasil kutukan dari tokoh legendaris Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti. Sosok ini dikenal memiliki ucapan sakti yang dapat berubah menjadi kenyataan. Siapa pun yang kena kutukannya akan berubah menjadi batu.

Cerita rakyat lainnya berkembang di situs manusia dililit ular, yang dipercaya sebagai simbol kutukan bagi pasangan yang melanggar norma adat. Meskipun secara ilmiah arca tersebut memiliki makna spiritual yang berbeda, legenda ini justru menjaga situs tetap terpelihara karena masyarakat enggan mengganggu benda-benda yang dianggap keramat.

Upaya Pelestarian dan Potensi Wisata

Pemerintah Kota Pagaralam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus berupaya melestarikan warisan leluhur ini. Tidak kurang dari 67 situs telah didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Situs-situs tersebut tersebar di berbagai lokasi seperti Tegur Wangi, Belumai, Tanjung Aro, Cawang Lama, Cawang Baru, dan Tebing Tinggi.

Di Situs Megalit Batu Beghibu, pengelola membangun pagar pelindung agar pengunjung tidak dapat menyentuh langsung artefak. Suriana (70), pemilik tanah tempat situs berada, menceritakan bahwa sejak tahun 1980-an turis dan peneliti asing sudah sering berkunjung ke lahannya. “Dulunya bentuk megalit ini sangat jelas dan kecil, sekarang ukurannya sedikit membesar karena faktor alam,” ujarnya. Menariknya, pengunjung tidak dipungut biaya masuk, sehingga siapa pun bebas datang dan belajar tentang sejarah.

Di situs Belumai, batu berelief menjadi primadona karena kondisinya yang paling utuh dibanding artefak lainnya. Pihak BP3 Jambi bahkan melakukan relokasi untuk perlindungan dan perawatan yang lebih baik. Sementara di situs Tanjung Aro, cerita heroik tentang kegagalan tentara Jepang mengangkat arca manusia dililit ular menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Namun sayangnya, kebudayaan tinggi ini tidak terwariskan secara turun-temurun. Peneliti menyayangkan punahnya tradisi megalitik yang merupakan satu-satunya di dunia dan tak ada yang menyamainya. Generasi sekarang hanya bisa menyaksikan peninggalannya, tanpa memahami secara utuh ritual dan makna di balik pembuatannya.

Melihat Langsung Kemegahan Megalitikum Pagaralam

Kamu bisa memulai petualangan dari Situs Tegur Wangi di Kelurahan Pagar Wangi, Kecamatan Dempo Utara. Di sini, empat megalit berjajar seperti orang yang sedang menggendong bakul padi. Tidak jauh dari lokasi, terdapat tiga rumah batu atau rumah dalam tanah yang semuanya terbuat dari lempengan batu. Rumah batu ini memiliki pintu dengan tiga daun pintu, serta tiang, dinding, dan atap dari batu. Ruang di dalamnya hanya cukup untuk dua orang dewasa.

Sekitar 100 meter dari Batu Beghibu, kamu akan menemukan situs Rumah Batu yang diyakini sebagai tempat tinggal masyarakat zaman dulu. Penemunya menceritakan bahwa di dalam rumah batu ini terdapat lukisan kuno yang menggambarkan orang memegang cangkul. Sayangnya, lukisan tersebut kini mulai pudar tertutup lumut.

Lanjutkan perjalanan ke situs Belumai di Kecamatan Pagaralam Selatan, sekitar 2 km dari pusat kota. Di areal persawahan dan perkebunan kopi ini, kamu bisa melihat berbagai jenis megalitikum. Selain batu berelief, ada lumpang batu, lesung batu, dan batu gelang yang tersusun melingkar.

Bagi kamu yang tertarik dengan arca unik, situs Tanjung Aro wajib masuk daftar kunjungan. Di tengah hamparan sawah, berdiri arca manusia yang dililit ular dengan ekspresi yang masih jelas terlihat. Konon, arca ini pernah menjadi incaran penjajah Jepang, namun upaya mereka selalu gagal.

Tips Wisata

Sayangi warisan ini dengan menjaganya saat berkunjung. Ambil foto, pelajari sejarahnya, bagikan kisahnya kepada orang lain, tetapi biarkan batu-batu itu tetap di tempatnya. Sebab, setiap goresan pada permukaan batu andesit adalah surat dari masa lalu yang berbicara kepada kita tentang kehidupan, keyakinan, dan penghormatan mereka kepada leluhur.

Jangan ragu untuk berbagi artikel ini kepada teman atau keluargamu yang tertarik dengan sejarah dan budaya. Semakin banyak orang tahu, semakin besar pula kepedulian kita untuk melestarikan warisan yang tak ternilai harganya. Karena pada akhirnya, kita hanyalah penghuni sementara di bumi yang di dalamnya tersimpan memori peradaban yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Batu-batu di Pagaralam bukan sekadar saksi bisu, melainkan guru yang mengajarkan kita tentang keagungan masa lalu dan tanggung jawab akan masa depan.

Baca juga:

Referensi:

  1. ECOLOGICAL CONSIDERATIONS IN LEADING MEGALITIC PLACEMENT (Case study of the distribution of Megalithic remains in Jarai area, Lahat district, South Sumatra). (2018). SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH2(2), 77-95. https://doi.org/10.33772/sangia.v2i2.575
  2. Rahman, M. F. (2022). Pola Sebaran Situs Megalitik di Dataran Tinggi Pasemah (Skripsi sarjana, Universitas Jambi). Repository Unja. https://repository.unja.ac.id/41594/ 
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Megalitik_Belumai

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Megalitikum Pagaralam

1. Di mana saja lokasi situs megalitikum yang bisa dikunjungi di Pagaralam?

Situs megalitikum tersebar di beberapa lokasi utama di Kota Pagar Alam. Kamu dapat mengunjungi Situs Tegur Wangi (Batu Beghibu) di Kelurahan Pagar Wangi, Kecamatan Dempo Utara. Ada juga Situs Belumai di Kecamatan Pagaralam Selatan, Situs Tanjung Aro dengan arca manusia dililit ular, serta situs-situs lainnya seperti Cawang Lama, Cawang Baru, dan Tebing Tinggi.

2. Apa saja jenis-jenis peninggalan megalitikum yang ditemukan di Pagaralam?

Peninggalan megalitikum di Pagaralam sangat beragam. Kamu akan menemukan arca batu (berupa manusia, hewan, atau gabungan keduanya), bilik batu (kubur batu), dolmen, menhir, lesung batu, lumpang batu, tetralith (batu bersusun empat), enclosure stone (batu gelang), dan rumah batu dengan lukisan dinding kuno.

3. Berapa usia peninggalan megalitikum di Pagaralam?

Berdasarkan penelitian para arkeolog, tradisi megalitikum di dataran tinggi Pasemah diperkirakan berkembang sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi atau sekitar 4.000 tahun yang lalu. Masa ini termasuk dalam periode megalitik muda, di mana masyarakat pendukungnya sudah mengenal teknologi logam (perunggu).

4. Siapa tokoh peneliti yang terkenal meneliti megalitikum Pagaralam?

Banyak peneliti, terutama dari Belanda, yang tertarik meneliti kawasan ini. Yang paling terkenal adalah Van der Hoop yang pada tahun 1932 menyatakan bahwa peninggalan ini berasal dari masa prasejarah, bukan masa Hindu seperti dugaan sebelumnya. Peneliti lain termasuk Tombrink, Ullmann, Westenenk, serta peneliti Indonesia seperti R.P. Soejono, Haris Sukendar, dan tim dari Balai Arkeologi Palembang.

5. Apa legenda yang berkembang di masyarakat tentang situs megalitikum Pagaralam?

Masyarakat setempat memiliki legenda yang erat kaitannya dengan situs megalitikum. Di Situs Tegur Wangi, batu-batu dipercaya sebagai hasil kutukan Si Pahit Lidah (Serunting Sakti). Di Situs Tanjung Aro, arca manusia dililit ular dipercaya sebagai sepasang kekasih yang melanggar adat lalu dikutuk oleh ular murka hingga membatu. Legenda-legenda ini tetap hidup dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Pagaralam.

Scroll to Top