Sejarah Puyang Atung Bungsu, Leluhur Peradaban Besemah Sumatera Selatan

Puyang Atung Bungsu

Puyang Atung Bungsu merupakan figur sentral dalam sejarah asal-usul masyarakat Besemah di Sumatera Selatan. Tokoh legendaris ini dikenal sebagai leluhur yang membuka peradaban di dataran tinggi sekitar Gunung Dempo dan menyebarkan keturunannya ke berbagai wilayah.

Jejak Sejarah dan Asal-Usul Puyang Atung Bungsu

Pembahasan mengenai Puyang Atung Bungsu tidak dapat dilepaskan dari konteks migrasi dan penyebaran penduduk di Nusantara. Berdasarkan catatan silsilah dan cerita turun-temurun, Puyang Atung Bungsu disebut sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, putra dari Puyang Kurungan Dewa atau Kurungan Diwe yang bermukim di bumi Kute Aji Mentare Rambang, wilayah yang pada masa lampau berada di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya.

Kisah perjalanan Puyang Atung Bungsu dari tanah Rambang menuju tanah Besemah menjadi babak penting dalam sejarah demografi Sumatera Selatan. Dalam perjalanan menelusuri aliran sungai Lematang, beliau tiba di suatu kawasan yang kemudian dipilihnya sebagai tempat bermukim, yakni dusun Benua Keling di lereng Gunung Dempo. Di tempat inilah beliau menikah dengan putri Ratu Benua Keling yang bernama Senantan Buih atau Kenantan Buih, yang kemudian melahirkan generasi penerus yang menyebar ke berbagai penjuru.

Silsilah Puyang Atung Bungsu dalam beberapa versi cerita memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Sebuah versi menyebutkan bahwa Puyang Atung Bungsu merupakan keturunan dari Ratu Sinuhun, yang nasabnya bersambung hingga ke Baginda Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayidina Husain. Versi lain mengidentifikasi Puyang Atung Bungsu dengan tokoh Syekh Sutabaris atau Syekh Syamsu Tabris, seorang ulama yang disebut sebagai guru dari Sunan Kalijaga dan turut mendukung pengangkatan Raden Fatah sebagai Sultan Demak .

Makna Dibalik Nama Besemah dan Pasemah

Salah satu warisan penting Puyang Atung Bungsu adalah penamaan kawasan yang dihuninya. Budayawan Besemah, Bastari Suan, menjelaskan bahwa istilah Besemah berasal dari kata “be” yang berarti ada dan “semah” yang merupakan nama ikan yang hidup di sungai-sungai sekitar Gunung Dempo dan Hulu Sungai Musi. Konon, pada masa lampau, Puyang Atung Bungsu menemukan ikan semah di sungai Lematang, kemudian menamakan kawasan tersebut dengan Besemah, yang bermakna sungai yang ada ikan semahnya.

Sementara istilah Pasemah yang juga sering digunakan, menurut penjelasan yang sama, merupakan sebutan yang diberikan oleh orang kolonial seperti Inggris dan Belanda. Keterbatasan lidah mereka dalam menyebut kata Besemah kemungkinan menjadi penyebab lahirnya istilah Pasemah. Pemahaman ini penting untuk diketahui agar kamu dapat membedakan mana istilah yang berasal dari dalam masyarakat dan mana yang merupakan pengaruh dari luar.

Perjalanan Hidup dan Keturunan

Dalam perantauannya menelusuri sungai Lematang, Puyang Atung Bungsu akhirnya memilih menetap di dusun Benua Keling. Perkawinannya dengan Senantan Buih melahirkan beberapa orang putra yang kemudian menjadi cikal bakal penyebar populasi di Jagat Besemah. Nama-nama seperti Bujang Jawe yang dikenal juga sebagai Puyang Diwate, Puyang Mandulike, Puyang Sake Semenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seratus, dan Puyang Sake Seketi tercatat sebagai keturunan langsung yang melanjutkan generasi.

Dari keturunan inilah lahir apa yang kini dikenal sebagai Suku Bangsa Besemah, sebuah rumpun besar dengan bahasa Melayu berdialek “e” yang mencakup suku Semende, Gumay, Besemah Ayik Keghuh di kawasan Empat Lawang, Kikim, Palas Pasemah di Lampung, Kedurang di Bengkulu, dan beberapa suku lainnya. Luasnya penyebaran ini menunjukkan betapa besar pengaruh migrasi dari keturunan Puyang Atung Bungsu dalam membentuk demografi di Sumatera Selatan dan sekitarnya.

Kedatangan dan Interaksi dengan Penghuni Awal

Cerita rakyat Besemah mengisahkan bahwa ketika Puyang Atung Bungsu tiba di dataran Besemah, kawasan tersebut ternyata sudah didiami oleh suku Rejang Berige yang dipimpin oleh Ratu Rambut Selake. Terjadilah interaksi antara pendatang baru dengan penghuni lama yang menentukan siapa yang berhak atas tanah Besemah. Untuk menyelesaikan hal ini, mereka mengucapkan sumpah dalam bahasa daerah.

Puyang Atung Bungsu mengucapkan sumpah yang kurang lebih berbunyi, “jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucuku.” Mendengar ucapan tersebut, Ratu Rambut Selake akhirnya mengakui bahwa tanah Besemah adalah milik Puyang Atung Bungsu. Peristiwa ini menunjukkan adanya proses diplomasi dan penyelesaian sengketa secara adat yang melibatkan kekuatan spiritual.

Posisi dalam Rumpun Pendiri Jagat Besemah

Dalam versi cerita yang lain, Puyang Atung Bungsu merupakan salah satu dari tiga dewa yang menjadi puyang atau nenek moyang orang Besemah, bersama dengan Dewa Gumay dan Dewa Semidang. Ketiganya disebut membuka lahan, membangun peradaban, dan menyebarkan jurai keturunan hingga hampir menguasai wilayah Sumatera Selatan, sebagian Jambi, dan Bengkulu.

Para leluhur ini membangun sebuah pemerintahan yang disebut Keratuan Besemah. Meskipun sebelumnya sudah ada kehidupan di sekitar lembah Gunung Dempo yang disebut jeme Dempu, situasinya kurang nyaman karena banyak gangguan makhluk halus. Berkat kesaktian ketiga dewa, lembah Dempo menjadi aman, tenteram, dan tidak ada musuh yang berani mengganggu.

Tradisi Penghormatan dan Pemujaan Leluhur

Masyarakat Besemah hingga kini masih menjaga tradisi penghormatan kepada para leluhur, termasuk Puyang Atung Bungsu. Di Desa Penyandingan Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim, misalnya, masyarakat masih melaksanakan tradisi Mbatur Puyang Atung Bungsu. Tradisi ini mengandung makna mendalam bagi masyarakat yang masih setia melestarikannya.

Nama Puyang Atung Bungsu termasuk dalam daftar puyang yang tidak boleh dijadikan lelucon. Masyarakat bahkan sebisa mungkin tidak menyebut nama puyang tersebut secara sembarangan karena adanya relasi persaudaraan yang dijunjung tinggi antara yang hidup dengan yang telah mati. Kebaikan dan keburukan anggota ditentukan oleh partisipasi mereka dalam menjaga harmoni dengan leluhur dan alam sekitar.

Dalam struktur sosial masyarakat Besemah, terdapat pemuka adat yang disebut katip yang biasanya berasal dari jurai tue, yakni keturunan langsung Puyang. Mereka memiliki kedekatan spiritual dengan para leluhur dan memimpin berbagai ritus yang berkaitan dengan penghormatan kepada para puyang.

Kontinuitas Keturunan dan Pengakuan Kontemporer

Menarik untuk dicermati bahwa garis keturunan Puyang Atung Bungsu masih dapat dilacak hingga saat ini. Sebagai contoh, pada tahun 2021, M. Yanuar Anoseputra, seorang pemuda kelahiran Lahat yang dikenal sebagai penulis dan pegiat budaya, menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Literatur dari ITMUT Brazil. Ia merupakan keturunan ke-26 dari Puyang Atung Bungsu, sekaligus zuriyat dari Syekh Nurqodim Al Baharudin atau Puyang Awak dan Depati Kiam Raja .

Pengakuan terhadap keturunan langsung ini menunjukkan bahwa jejak genealogis Puyang Atung Bungsu masih terpelihara dalam ingatan kolektif masyarakat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa sosok legendaris ini bukan sekadar mitos belaka, melainkan figur sejarah yang keberadaan dan keturunannya masih dapat dilacak hingga masa kini.

Fungsi Legenda dalam Kehidupan Masyarakat

Meskipun asal-usul suku Besemah masih menyisakan misteri dan cerita yang bersifat legendaris, keberadaan mitos atau legenda tentang Puyang Atung Bungsu memiliki peran penting sebagai pemersatu masyarakat. Seperti dikemukakan oleh Aris Turangga, unsur terpenting dari mitos bukanlah persoalan benar atau salah, melainkan peran dan fungsinya dalam mempersatukan kehidupan suatu masyarakat .

Legenda ini dapat menjadi antisipasi disintegrasi kesatuan dan persatuan jeme Besemah di mana pun mereka berada. Terlebih setelah pemerintahan marga dihapuskan melalui UU No.5 Tahun 1979, kebutuhan akan perekat sosial semakin mendesak. Perasaan dan keyakinan bahwa jeme Besemah, termasuk jeme Semende dan jeme Kisam, berasal dari satu keturunan perlu selalu ditanamkan .

Dari pembahasan di atas, kamu kini memiliki gambaran yang lebih utuh tentang Puyang Atung Bungsu sebagai figur leluhur yang melegenda. Sosoknya tidak hanya hadir dalam cerita masa lalu, tetapi juga hidup dalam tradisi, struktur sosial, dan kesadaran kolektif masyarakat Sumatera Selatan hingga hari ini. Jika kamu memiliki informasi tambahan atau catatan silsilah keluarga yang berkaitan dengan Puyang Atung Bungsu, jangan ragu untuk membagikannya agar semakin memperkaya khazanah sejarah bersama. Karena sejatinya, merajut kembali benang merah sejarah leluhur berarti memperkokoh rumah persaudaraan yang kita diami saat ini.

Baca juga:

Referensi:

  1. Istiawati, N. F., Widodo, S., & Lestari, M. A. (2023). Keterkaitan Jarak Geografis Terhadap Eksistensi Tradisi Pantauan Bunting (Konstruksi Sosial Suku Besemah, Lahat, Indonesia). Jambura Geo Education Journal, 4(1), 35–48. https://doi.org/10.34312/jgej.v4i1.17355
  2. Widianita, E., Purnama, D. H., & Sununianti, V. V. (2019). MAKNA TRADISI MBATUR PUYANG ATUNG BUNGSU BAGI MASYARAKAT DI DESA PENYANDINGAN KECAMATAN TANJUNG AGUNG KABUPATEN MUARA ENIM [Skripsi Sarjana, Universitas Sriwijaya]. Sriwijaya University Repository. http://repository.unsri.ac.id/14961/ 

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Puyang Atung Bungsu

1. Siapakah sebenarnya Puyang Atung Bungsu itu?

Puyang Atung Bungsu adalah tokoh leluhur legendaris masyarakat Besemah di Sumatera Selatan. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, putra Puyang Kurungan Dewa, yang melakukan migrasi dari tanah Rambang ke dataran tinggi sekitar Gunung Dempo. Dalam berbagai versi cerita, ia disebut sebagai salah satu pendiri Jagat Besemah bersama Dewa Gumay dan Dewa Semidang. Beberapa catatan bahkan mengaitkannya dengan tokoh penyebar Islam Syekh Sutabaris yang memiliki koneksi dengan Walisongo di Jawa .

2. Apa hubungan Puyang Atung Bungsu dengan nama Besemah?

Puyang Atung Bungsu disebut sebagai pemberi nama Besemah pada kawasan yang dihuninya. Konon, ketika menjelajahi sungai Lematang, ia menemukan ikan semah di sungai tersebut. Dari peristiwa itu, ia menamakan kawasan itu Besemah, yang berasal dari kata “be” (ada) dan “semah” (nama ikan), sehingga Besemah bermakna sungai yang ada ikan semahnya. Istilah Pasemah yang juga dikenal merupakan sebutan dari orang kolonial yang kesulitan melafalkan Besemah.

3. Siapa saja keturunan Puyang Atung Bungsu?

Dari pernikahannya dengan Senantan Buih, putri Ratu Benua Keling, Puyang Atung Bungsu memiliki beberapa orang putra, di antaranya Bujang Jawe (Puyang Diwate), Puyang Mandulike, Puyang Sake Semenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seratus, dan Puyang Sake Seketi. Keturunan mereka kemudian menyebar dan membentuk rumpun besar Suku Bangsa Besemah yang meliputi suku Semende, Gumay, Kikim, Palas Pasemah di Lampung, Kedurang di Bengkulu, dan beberapa suku lainnya .

4. Mengapa masyarakat Besemah sangat menghormati Puyang Atung Bungsu?

Penghormatan terhadap Puyang Atung Bungsu berkaitan dengan sistem kepercayaan lokal yang memandang leluhur sebagai penjaga harmoni kehidupan. Nama para puyang tidak boleh dijadikan lelucon dan sebisa mungkin tidak disebut sembarangan karena adanya relasi persaudaraan antara yang hidup dengan yang telah mati. Tradisi seperti Mbatur Puyang Atung Bungsu di Desa Penyandingan menunjukkan bagaimana penghormatan ini masih terpelihara. Keturunan langsung dari Puyang, yang disebut jurai tue, biasanya menjadi pemimpin dalam berbagai ritus adat.

5. Apakah benar Puyang Atung Bungsu memiliki kaitan dengan tokoh penyebar Islam?

Beberapa versi silsilah mengaitkan Puyang Atung Bungsu dengan Syekh Sutabaris atau Syekh Syamsu Tabris, seorang ulama yang disebut sebagai guru Sunan Kalijaga dan turut mendukung pengangkatan Raden Fatah sebagai Sultan Demak. Versi lain bahkan menelusuri nasabnya hingga ke Baginda Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayidina Husain. Catatan-catatan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara sejarah lokal Besemah dengan jaringan penyebaran Islam di Nusantara, meskipun kebenaran historisnya masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Scroll to Top