Kekayaan Rasa, 7+ Makanan Khas Lahat di Bumi Seganti Setungguan

Makanan Khas Lahat

Makanan Khas Lahat

Ketika berbicara tentang wisata kuliner di Sumatera Selatan, makanan khas Lahat menawarkan pengalaman yang tidak akan pernah kamu lupakan. Kabupaten yang terletak di kaki Pegunungan Bukit Barisan ini menyimpan segudang kelezatan tradisional yang lahir dari kearifan lokal dan kekayaan alamnya yang melimpah. Setiap hidangan membawa cerita tentang adaptasi masyarakat terhadap lingkungan, mulai dari fermentasi durian menjadi tempoyak hingga pengasapan ikan yang menjadi ciri khas kuliner daerah ini. Yuk, kita jelajahi bersama deretan wisata kuliner yang wajib kamu cicipi saat berkunjung ke Bumi Seganti Setungguan.

Mengapa Kuliner Lahat Begitu Istimewa di Mata Para Pecinta Wisata Kuliner

Keunikan makanan khas Lahat tidak terlepas dari kondisi geografis daerah tersebut. Diapit oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Lematang dan tanah vulkanik yang subur, Lahat dianugerahi bahan pangan berkualitas tinggi. Ikan baung, patin, hingga ikan semah berenang bebas di perairannya, sementara durian berkualitas super tumbuh subur di kebun-kebun warga. Kombinasi inilah yang melahirkan cita rasa otentik yang sulit kamu temukan di tempat lain.

Masyarakat Lahat mewarisi filosofi “Seganti Setungguan” yang melambangkan persatuan dan gotong royong. Nilai ini tercermin dalam tradisi Makan Sehidangan, di mana warga duduk bersama menikmati hidangan di atas tikar. Setiap suapan tempoyak atau gulai rebung mengingatkan kita pada kemurahan alam Sumatera dan ketelatenan para leluhur dalam meracik bumbu warisan.

Makanan Khas Lahat di Bumi Seganti Setungguan

1. Tempoyak Ikan Patin

Hidangan ini terbuat dari daging durian pilihan yang difermentasi selama minimal tiga hari dengan sedikit garam. Proses fermentasi mengubah durian manis menjadi pasta asam segar yang menjadi jiwa berbagai masakan Sumatera Selatan.

Untuk menyajikan tempoyak ikan patin, para ibu di Lahat menumis bumbu halus berupa cabai merah, kunyit, dan serai hingga harum. Pasta tempoyak kemudian dimasukkan bersama ikan patin sungai yang lembut dan kaya lemak. Saat kamu menyendok kuahnya, sensasi creamy dari durian berpadu dengan rasa asam yang menyegarkan, lalu diikuti pedas yang merayap perlahan. Daging ikan patin yang lumer di mulut menyatu sempurna dengan bumbu tebal yang aromatik.

Warga Lahat biasa menyantap tempoyak dengan nasi putih hangat dan lalapan rebung atau petai mentah. Tekstur renyah dari lalapan memberikan kontras yang menarik di tengah kelembutan kuah tempoyak. Kamu bisa menemukan hidangan ini dengan mudah di rumah makan tradisional sekitar pusat kota Lahat.

2. Hebi atau Gulai Rebung

Hebi merupakan sebutan lokal untuk gulai rebung khas Lahat. Hidangan ini merepresentasikan kedekatan masyarakat dengan hutan bambu yang tumbuh subur di daerah perbukitan. Rebung atau tunas bambu muda harus direbus berulang kali terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa langunya.

Rahasia kelezatan hebi terletak pada penggunaan ikan asap atau sale sebagai penguat rasa gurih alami. Santan kental dimasak perlahan bersama bumbu kuning hingga minyaknya keluar, menciptakan kuah yang kaya dan creamy. Tekstur rebung yang renyah memberikan sensasi unik saat kamu menggigitnya, sementara aroma smoky dari ikan asap meresap ke dalam setiap serat rebung.

Keluarga di Lahat biasanya menjadikan hebi sebagai menu utama saat makan siang. Disajikan dalam mangkuk keramik besar dengan taburan bawang goreng, hidangan ini cocok kamu nikmati kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam hari. Beberapa rumah makan juga menyediakan hebi dengan tambahan ayam kampung atau daging sapi untuk variasi rasa.

3. Pindang Patin Lahat

Berbeda dengan pindang Palembang yang cenderung manis, pindang patin khas Lahat menonjolkan karakter rasa lebih tajam dan asam. Cita rasa ini mencerminkan selera masyarakat pegunungan yang menyukai rasa berani untuk menghangatkan tubuh di kala udara dingin menyelimuti Bukit Barisan.

Kunci utama pindang patin Lahat terletak pada penggunaan asam kandis atau nanas segar yang memberikan rasa asam alami. Rempah seperti lengkuas, serai, jahe, dan kunyit tidak ditumis terlebih dahulu, melainkan direbus bersama ikan untuk menjaga kesegaran rasa sungai. Kuahnya tampak bening namun kaya rasa, dengan perpaduan pedas cabai rawit utuh, asam nanas, dan manis alami dari lemak ikan patin.

Kamu akan menemukan pindang patin disajikan panas-panas dengan sambal buah seperti sambal mangga atau sambal nanas. Sambal ini meningkatkan level kesegaran dan membuatmu ingin terus menyendok kuahnya. Tradisi menyantap pindang patin di pinggir Sungai Lematang menjadi pengalaman wisata kuliner yang sayang untuk dilewatkan.

4. Lempok Durian

Setelah puas dengan hidangan gurih, saatnya kamu mencicipi lempok durian sebagai pencuci mulut. Lempok sering dianggap sebagai dodol khas Lahat, namun bahan dasarnya berbeda. Tidak menggunakan tepung sama sekali, lempok murni terbuat dari daging durian dan gula merah asli.

Proses pembuatan lempok membutuhkan kesabaran luar biasa. Daging durian dan gula dimasak selama kurang lebih empat jam di atas kuali besar dengan api kecil. Tangan-tangan terampil terus mengaduk adonan hingga teksturnya berubah menjadi kenyal, lembut, dan mengkilap. Hasilnya, kamu akan mendapatkan manis legit yang intens dengan aroma durian sangat pekat. Teksturnya kenyal dan halus, meninggalkan rasa manis yang bertahan lama di langit-langit mulut.

Warga Lahat biasa memotong lempok kecil-kecil sebagai teman minum kopi Semendo di sore hari. Yang menarik, lempok bisa bertahan hingga satu tahun apabila kamu menyimpannya di tempat yang benar. Oleh-oleh khas ini sangat cocok kamu bawa pulang untuk keluarga dan kerabat.

5. Lemang

Lemang merupakan makanan khas Lahat yang terbuat dari beras ketan, santan kelapa, dan garam. Adonan ini kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu pilihan. Proses pembuatannya dilakukan dengan cara membakar lemang di atas bara api selama sekitar tiga jam.

Selama proses pembakaran, lemang harus bolak-balik agar matang secara merata. Kesabaranmu akan terbayar saat aroma harum mulai tercium dari bambu yang membara. Ketika matang, lemang mengeluarkan wangi yang sangat menggoda dengan rasa gurih dan legit dari perpaduan ketan dan santan. Teksturnya padat namun lembut di mulut.

Kamu bisa menikmati lemang sebagai karbohidrat pengganti nasi, terutama saat menyantap hidangan berkuah seperti gulai atau pindang. Lemang juga menjadi sajian wajib dalam berbagai upacara adat dan perayaan keagamaan di Lahat.

6. Kue Lumpang dan Kue Maksuba

Kue lumpang mendapat namanya dari bentuknya yang mirip lumpang atau alat penumbuk padi tradisional. Terbuat dari tepung beras, gula pasir, perisa pandan, dan santan, adonan kue ini dicampur dengan sedikit air kapur untuk memperoleh tekstur kenyal. Cara memasaknya dengan dikukus, sehingga kue lumpang menjadi pilihan tepat bagi kamu yang sedang menjalani program diet.

Disajikan dengan parutan kelapa di bagian atasnya, kue lumpang terasa semakin gurih dan nikmat. Kamu bisa menemukan jajanan ini dengan mudah di pasar tradisional atau toko kue di sekitar Lahat.

Sementara itu, kue maksuba merupakan jenis kue lapis legit yang pada zaman dahulu hanya dikonsumsi oleh raja, bangsawan, dan tamu kehormatan. Kue ini tidak pernah absen dari meja ketika ada hari besar seperti pernikahan dan Hari Raya Keagamaan. Kue maksuba memiliki cita rasa sangat manis dan legit, dengan warna kekuningan dan garis-garis hitam di tengahnya yang terbentuk karena proses menuang adonan sedikit demi sedikit.

7. Hehancang Tehung

Hehancang tehung atau rerancang terung merupakan makanan khas Lahat berbahan dasar terong. Terong dimasak menggunakan bumbu seperti bawang putih, bawang merah, cabai, lengkuas, dan garam. Yang membuat istimewa, olahan terong ini biasanya dipadukan dengan ikan asap atau salai sebagai aroma pelengkap.

Resep hehancang tehung sudah diturunkan dari beberapa generasi sebelumnya, sehingga rasa yang disajikan tetap terjaga dari dulu hingga saat ini. Kamu tidak akan kesulitan mencari hidangan ini karena makanan tersebut sudah menjadi menu wajib di hampir seluruh rumah makan yang ada di Lahat.

Tradisi Makan Sehidangan

Budaya makan masyarakat Lahat tidak lengkap tanpa memahami tradisi Makan Sehidangan. Dalam tradisi ini, makanan disajikan di atas nampan besar atau disusun memanjang di atas lantai beralaskan tikar. Setiap orang duduk bersila mengelilingi hidangan tersebut, mencerminkan kuatnya nilai komunal di Sumatera Selatan.

Makan sehidangan biasanya dilakukan dalam upacara adat seperti pernikahan, khitanan, atau doa bersama. Menu wajib yang harus ada meliputi nasi kebuli lokal atau nasi putih dengan berbagai macam gulai dan pindang. Uniknya, ada urutan tertentu dalam menyajikan makanan di mana tamu yang paling dihormati akan dipersilakan mengambil makanan terlebih dahulu.

Tradisi makan ini bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar, tetapi merupakan ruang diskusi dan pengikat tali persaudaraan antar warga. Saat kamu berkesempatan mengikuti tradisi ini, rasakan sendiri bagaimana hangatnya kebersamaan yang tercipta di setiap suapan.

Tips Berwisata Kuliner di Lahat

Sebelum kamu berangkat menikmati makanan khas Lahat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pastikan kamu datang dengan perut kosong karena porsinya cukup besar dan rasanya sangat menggugah selera. Waktu terbaik untuk berburu kuliner adalah saat pagi hingga siang hari ketika bahan makanan masih segar dan pedagang baru selesai memasak.

Jangan ragu untuk bertanya kepada penduduk lokal tentang rekomendasi rumah makan terbaik. Mereka biasanya dengan senang hati akan mengarahkanmu ke tempat yang menyajikan masakan paling otentik. Bawalah uang tunai yang cukup karena tidak semua tempat makan menerima pembayaran digital.

Kuliner Lahat juga menawarkan pengalaman yang ramah di kantong. Dengan budget sekitar seratus ribu rupiah, kamu sudah bisa mencicipi beberapa hidangan sekaligus. Jangan lupa untuk menyisihkan dana membawa pulang lempok durian atau kue maksuba sebagai oleh-oleh.

Jadi, sudah siap menjelajahi Bumi Seganti Setungguan melalui lidahmu sendiri? Bagikan artikel ini kepada teman traveller lainnya, karena pengalaman terasa lebih nikmat ketika diceritakan bersama. Selamat berpetualang rasa, dan jangan lupa – di Lahat, setiap suapan adalah cerita yang layak dikenang seumur hidup.

Baca juga: 11+ Makanan Khas Sumatera Barat dari Rendang hingga Ampiang Dadiah

(FAQ) Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Makanan Khas Lahat

1. Apa makanan khas Lahat yang paling populer dan wajib dicoba?

Tempoyak ikan patin menjadi makanan paling ikonik dari Lahat. Hidangan berbahan dasar durian fermentasi ini memiliki cita rasa asam, pedas, dan gurih yang unik. Kamu juga wajib mencicipi hebi atau gulai rebung, pindang patin, lempok durian, serta lemang sebagai pelengkap pengalaman kuliner otentik di Bumi Seganti Setungguan.

2. Di mana tempat terbaik untuk menikmati makanan khas Lahat?

Kamu bisa menemukan makanan khas Lahat dengan mudah di rumah makan tradisional yang tersebar di sekitar pusat kota Lahat. Beberapa rekomendasi tempat antara lain rumah makan pinggir Sungai Lematang yang menyajikan pindang patin segar, serta warung-warung sederhana di pasar tradisional yang menjual lempok dan kue lumpang. Penduduk lokal biasanya menyarankan tempat makan yang sudah beroperasi puluhan tahun karena cita rasanya paling otentik.

3. Apakah tempoyak aman dikonsumsi oleh wisatawan yang baru pertama kali mencoba?

Tempoyak sangat aman dikonsumsi karena melalui proses fermentasi terkontrol dengan garam selama minimal tiga hari. Namun bagi kamu yang belum terbiasa dengan aroma durium fermentasi, sebaiknya mulai dengan porsi kecil terlebih dahulu. Rasa asam dan sedikit manis dari tempoyak justru menyegarkan dan membuat ketagihan setelah beberapa kali mencicipi.

4. Berapa harga rata-rata makanan khas Lahat per porsi?

Harga makanan khas Lahat tergolong sangat ramah di kantong. Untuk seporsi tempoyak ikan patin atau pindang patin, kamu hanya perlu merogoh kocek sekitar dua puluh lima ribu hingga empat puluh ribu rupiah. Lempok durian dijual per bungkus mulai dari lima belas ribu rupiah, sementara lemang bisa kamu dapatkan dengan harga sepuluh hingga dua puluh ribu rupiah per potong.

5. Kapan waktu terbaik untuk berwisata kuliner di Lahat?

Waktu terbaik berwisata kuliner di Lahat adalah pada bulan Mei hingga September saat musim kemarau berlangsung. Cuaca cerah memudahkan kamu menjelajahi berbagai tempat makan. Datanglah pada pagi hingga siang hari ketika bahan makanan masih segar dan hidangan baru selesai dimasak. Hindari datang terlalu malam karena sebagian besar rumah makan tradisional tutup setelah pukul delapan malam.

Scroll to Top