Si Pahit Lidah
Si Pahit Lidah merupakan tokoh legendaris yang paling dikenal dalam khazanah cerita rakyat Sumatra Selatan, dengan pengaruh budaya yang membentang luas hingga ke wilayah Jambi, Bengkulu, dan Lampung. Figur mistis ini tidak hanya hidup dalam tuturan turun-temurun, tetapi juga meninggalkan jejak arkeologis berupa situs-situs megalitik yang masih dapat kamu saksikan hingga saat ini. Berdasarkan penelitian arkeologi yang dilakukan di kawasan Danau Ranau, situs-situs yang dikaitkan dengan tokoh ini telah dihuni setidaknya sejak abad ke-7 hingga abad ke-19 Masehi, dengan tradisi megalitik yang berlangsung dari masa prasejarah akhir hingga masa sejarah.
Asal-Usul dan Silsilah Tokoh
Serunting Sakti, nama asli dari Si Pahit Lidah, dalam berbagai versi cerita digambarkan sebagai seorang pangeran dari daerah Sumidang yang memiliki garis keturunan sakti. Ibunya bernama Putri Tenggang yang merupakan keturunan raksasa. Sosoknya kemudian menikah dengan seorang gadis desa bernama Siti, yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Puyang Putri, berasal dari Desa Sawah, Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang.
Dalam struktur masyarakat adat Sumatra Selatan, khususnya Suku Semidang, Puyang Serunting Sakti bukanlah sekadar tokoh mitologi. Masyarakat di Dusun Pelang Kenidai meyakini bahwa Serunting Sakti merupakan nenek moyang mereka yang telah meletakkan pondasi dasar nilai budaya dan norma dalam tatanan kehidupan mereka. Kesaktian yang dimiliki Puyang Serunting Sakti menjadi simbol persatuan bagi keturunannya dan berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang efektif hingga kini.
Pengembaraan dan Kutukan di Tanah Sumatra
Sepanjang perjalanan pulang ke Sumidang, Serunting menguji kesaktian barunya dengan berbagai perbuatan, baik yang bersifat konstruktif maupun destruktif. Dalam satu riwayat, ia mengubah ladang padi menjadi emas dan mengalirkan sungai yang semula kering. Namun, dalam kisah lain yang lebih banyak diceritakan, pengembaraannya justru meninggalkan jejak-jejak kutukan yang membatu.
Legenda Buah Lerak yang Berubah Pahit
Salah satu kisah paling menarik dalam pengembaraan Si Pahit Lidah terjadi di kawasan Gunung Seminung, tepatnya di sepanjang pesisir Danau Ranau. Saat turun dari pertapaannya, Serunting melihat sekelompok anak-anak sedang asyik memakan buah pantis (lerak) yang jatuh dari pohon. Beberapa kali ia menegur mereka dari kejauhan, namun suaranya hilang tertiup angin pegunungan. Karena anak-anak itu tidak menggubris tegorannya, dengan kesal Serunting menyumpah buah tersebut menjadi pahit.
Seketika itu juga, anak-anak yang sedang asyik memakan buah lerak yang manis seperti kurva langsung memuntahkannya—buah itu berubah menjadi sangat pahit dan berbusa. Hingga kini, masyarakat lokal Kabupaten OKU Selatan masih menggunakan buah lerak yang pahit dan berbusa itu untuk mencuci pakaian.
Kutukan Pengantin Batu di Candi Kabayan
Peristiwa paling dramatis dalam pengembaraan Si Pahit Lidah terjadi ketika ia melihat iring-iringan pesta pernikahan yang meriah di wilayah Padang Ghatu. Dalam kondisi lapar dan terabaikan, Serunting berdiri di sebuah bukit berharap para pengiring pengantin dapat mendengar suaranya. Namun kemeriahan pesta menenggelamkan setiap teriakannya.
Dengan perasaan kesal dan marah, Serunting melontarkan kutukan pedih, “Tulikah kalian, tuli dan buta kah sepasang pengantin itu…? sehingga tak melihat keberadaan ku dan mendengar teriakan ku…? sehingga diam saja seperti batu…!!!”.
Seketika itu juga, angin bertiup kencang, hujan lebat turun, dan halilintar menyambar dahsyat. Sepasang pengantin dan sebagian pengiringnya tidak dapat bergerak—kaki mereka terasa berat melangkah. Perlahan-lahan, mereka berubah menjadi batu, sementara makanan yang tersaji berkumpul dan membentuk sebuah candi . Bangunan yang kini dikenal sebagai Candi Batu Kabayan ini diperkirakan oleh peneliti asal Jerman sebagai candi tertua di Nusantara.
Situs Bukit Batu di OKI
Di wilayah lain, tepatnya di Desa Bukit Batu, Kecamatan Panglan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), legenda serupa juga berkembang. Konon, Si Pahit Lidah ingin menyeberangi lebak untuk menghadiri pesta perkawinan, namun tidak memiliki perahu. Meskipun berulang kali memanggil warga dan hewan di seberang, tak ada satu pun yang menggubrisnya.
Dalam puncak kekesalannya, Si Pahit Lidah menyumpah semua makhluk yang ada di seberang menjadi batu. Hasil kutukan itu masih dapat kamu saksikan hingga kini dalam bentuk batu lesung, batu pengantin, dan batu gajah yang tersebar di kawasan tersebut.
Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Versi lain yang tak kalah populer dalam tradisi lisan Sumatra Selatan mengisahkan pertarungan epik antara Si Pahit Lidah dengan Si Mata Empat, tokoh sakti yang memiliki empat mata—dua di depan dan dua di belakang kepala—yang memungkinkannya melihat dari segala penjuru.
Keduanya sepakat mengadu kesaktian di Enau Rebu dengan cara menjatuhkan pelepah pohon enau yang telah diruncingkan kepada lawan yang telungkup di bawah. Saat Si Mata Empat berada di bawah, ia dengan mudah menghindari setiap jatuhan berkat mata di belakang kepalanya. Namun ketika giliran Si Pahit Lidah yang telungkup, ia tidak mampu menghindar dan tewas tertusuk pelepah enau.
Setelah kematian Si Pahit Lidah, Si Mata Empat penasaran untuk membuktikan kebenaran julukan lawannya. Ia menjilat lidah Serunting yang pahit, dan dengan kehendak Yang Maha Kuasa, keduanya berubah menjadi batu. Mitos ini menjelaskan mengapa hingga kini masyarakat meyakini bahwa kuburan Si Pahit Lidah tersebar di banyak tempat—ketika tubuhnya yang membatu dipecah-pecah, setiap keturunannya membawa pulang satu pecahan ke daerah masing-masing.
Dari Iri Hati Menjadi Lidah Berkutukan
Kisah transformasi Serunting Sakti menjadi Si Pahit Lidah bermula dari konflik keluarga yang dipicu oleh sifat iri hati. Setelah menikahi Siti, Serunting tinggal bersama istri dan adik iparnya, Aria Tebing, yang memiliki lahan kayu cendana emas. Perselisihan mengenai batas lahan memicu pertarungan sengit antara keduanya.
Aria Tebing, meskipun secara fisik kalah sakti, berhasil mengetahui kelemahan Serunting dari sang kakak. Titik lemah Serunting terletak pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tidak ditiup angin. Berbekal informasi tersebut, Aria menancapkan tombaknya pada ilalang itu dan berhasil melukai Serunting hingga akhirnya mengalahkannya.
Merasa dikhianati oleh istrinya sendiri, Serunting memutuskan pergi meninggalkan kerajaan dan bertapa di Gunung Siguntang. Dalam pertapaannya selama dua tahun lamanya di bawah pohon bambu, ia bertemu dengan Sang Hyang Mahameru yang memberinya syarat: bertapa sampai seluruh tubuhnya tertutupi daun bambu . Setelah syarat itu terpenuhi, Sang Hyang Mahameru menganugerahkan kesaktian luar biasa—setiap ucapan yang terlontar dari mulutnya akan menjelma menjadi kenyataan. Kemampuan inilah yang kemudian melahirkan julukan Si Pahit Lidah.
Jejak Arkeologis dan Warisan Budaya
Situs Megalitik Pasemah
Kawasan Dataran Tinggi Pasemah di Sumatra Selatan menyimpan ribuan peninggalan megalitik berupa arca batu manusia dan hewan yang dipercaya masyarakat sebagai hasil kutukan Si Pahit Lidah. Para arkeolog menjelaskan bahwa benda-benda ini merupakan artefak dari kebudayaan yang tumbuh sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi.
Beberapa situs penting yang terkait dengan legenda ini antara lain:
- Candi Batu Kabayan di kawasan Padang Ghatu, yang dipercaya sebagai jelmaan pengantin dan hidangan pesta
- Situs Batu Gajah di Desa Bukit Batu, OKI, berupa kumpulan batu berbentuk gajah, lesung, dan payung
- Batu Tapak Kaki Puyang Serunting Sakti di Pelang Kenidai, yang menjadi media hubungan emosional antara Serunting dengan keturunannya
Keris Tata Renggane
Salah satu peninggalan paling berharga dari Puyang Serunting Sakti adalah sebilah keris yang dikenal dengan nama Tata Renggane. Pusaka ini berfungsi sebagai pemersatu seluruh keturunan suku Semidang, di mana pun mereka berada.
Masyarakat Pelang Kenidai meyakini bahwa ketika terjadi pelanggaran norma dan nilai-nilai adat, keris Tata Renggane akan menjadi kotor. Biasanya tanda ini disertai dengan kemunculan roh puyang melalui mimpi kepada keturunan tertentu. Jika hal ini terjadi, Juray Tuwe—keturunan langsung garis laki-laki pertama berdasarkan patrilineal—akan mencari tahu pelanggaran yang terjadi di masyarakat. Menariknya, masyarakat yang ditanya tidak berani berbohong karena takut akan kutukan Serunting Sakti.
Penyebaran Keturunan dan Pengaruh Budaya
Keturunan Serunting Sakti dari suku Semidang menyebar luas ke berbagai wilayah di Sumatra. Selain daerah Pagar Alam dan Lahat, mereka juga berada di Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Manna (Bengkulu Selatan), Marga Semidang di Kaur Utara, hingga Marga Semidang Alas di Seluma.
Dalam sejarah orang Besemah, suku Semidang dianggap sebagai salah satu sumbay (kelompok masyarakat) pembentuk komunitas di sekitar Gunung Dempo. Perbedaan penyebutan antara Semidang dan Sumidang dalam berbagai versi cerita mencerminkan dialektika sejarah yang lumrah terjadi dalam tradisi lisan di Sumatra.
Nilai Filosofis dan Relevansi Masa Kini
Analisis Nilai Moral
Penelitian terhadap kumpulan cerita rakyat Legenda Si Pahit Lidah karya MB. Rahimsyah mengungkapkan 102 ekspresi yang mengandung nilai moral. Nilai moral baik dalam hubungan antarmanusia meliputi: 5 ekspresi keadilan, 23 ekspresi sikap suka menolong, 3 ekspresi sikap pemaaf, dan 12 ekspresi sikap menepati janji.
Sementara itu, nilai moral buruk yang juga tercermin dalam kisah ini meliputi: 11 ekspresi kecurangan, 25 ekspresi sikap mengabaikan orang lain, 4 ekspresi sikap dendam, dan 6 ekspresi sikap mengingkari janji.
Dalam hubungan manusia dengan lingkungan, ditemukan 3 ekspresi nilai baik berupa menjaga lingkungan, dan 10 ekspresi nilai buruk berupa merusak lingkungan.
Refleksi untuk Generasi Muda
Legenda Si Pahit Lidah mengajarkan kita bahwa memiliki kekuatan atau kelebihan bukanlah alasan untuk bersikap sombong atau bertindak sevenang-wenang. Serunting, yang awalnya memiliki sifat iri hati, pendendam, dan angkuh, akhirnya mendapatkan konsekuensi dari setiap perbuatannya.
Di sisi lain, kisah ini juga menunjukkan bahwa setiap orang dapat bertobat dan menggunakan kelebihannya untuk kebaikan. Setelah mendapatkan kesaktian dari Sang Hyang Mahameru, Si Pahit Lidah tidak hanya mengutuk, tetapi juga melakukan perbuatan baik seperti mengubah lahan tandus menjadi subur dan membantu pasangan lanjut usia mendapatkan keturunan.
Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya
Bagi kamu yang tertarik menjelajahi jejak Si Pahit Lidah secara langsung, beberapa lokasi berikut dapat menjadi tujuan wisata sejarah yang menarik:
- Danau Ranau – Danau indah di perbatasan Lampung dan Sumatra Selatan yang dipercaya sebagai lokasi berbagai peristiwa dalam pengembaraan Si Pahit Lidah
- Candi Batu Kabayan – Situs arkeologi di kawasan Padang Ghatu yang terkait dengan legenda kutukan pengantin batu
- Situs Bukit Batu OKI – Berjarak sekitar 70 kilometer dari Palembang atau 1,5 jam perjalanan, menyimpan berbagai bentuk batu andesit seperti gajah, lesung, dan pengantin
- Makam Puyang Serunting Sakti di Dusun Pelang Kenidai – Tempat yang hingga kini dijaga dan dipelihara oleh keturunan Serunting Sakti
- Situs Megalitik Pasemah – Tersebar di Kabupaten Lahat dan OKU Selatan, menyimpan ribuan peninggalan budaya megalitik
Jika artikel ini bermanfaat, bagikan kepada teman-temanmu yang juga tertarik dengan cerita rakyat Nusantara. Karena dari kisah leluhur, kita belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana. (Allya)
Baca juga: Mengenal 15+ Tempat Wisata di Palembang
Referensi:
- https://portalbpsdm.jambiprov.go.id/artikel/buku-sastra/legenda-si-pahit-lidah-dan-si-mata-empat-pertarungan-dua-pendekar-sakti-dari-sumatra-selatan/
- https://id.wikipedia.org/wiki/Si_Pahit_Lidah
- https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2233/1/Si%20Pahit%20Lidah%201994.pdf
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Si Pahit Lidah
1. Apa arti julukan “Si Pahit Lidah” dan mengapa Serunting disebut demikian?
Julukan Si Pahit Lidah diberikan kepada Serunting Sakti karena kesaktiannya yang unik—setiap ucapan atau kutukan yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan. Istilah “pahit” di sini bukan merujuk pada rasa lidah secara harfiah, melainkan pada dampak dari perkataannya yang sering kali berakibat fatal atau tidak menyenangkan bagi yang terkena kutukan. Julukan ini melekat setelah Serunting menyelesaikan tapanya di Gunung Siguntang dan menerima anugerah kesaktian dari Sang Hyang Mahameru.
2. Di mana saja lokasi peninggalan Si Pahit Lidah yang bisa dikunjungi?
Peninggalan yang dikaitkan dengan Si Pahit Lidah tersebar di beberapa lokasi di Sumatra Selatan dan Lampung. Kamu dapat mengunjungi Candi Batu Kabayan di kawasan Padang Ghatu, OKU Selatan; Situs Bukit Batu di Kabupaten OKI yang memiliki batu berbentuk gajah dan pengantin; Makam Puyang Serunting Sakti di Dusun Pelang Kenidai; serta berbagai situs megalitik di Dataran Tinggi Pasemah, Kabupaten Lahat dan OKU Selatan. Di Lampung Barat, dekat Danau Ranau, juga terdapat situs yang dipercaya sebagai makam Si Pahit Lidah.
3. Apa hubungan Si Pahit Lidah dengan peninggalan megalitik di Sumatra Selatan?
Masyarakat setempat meyakini bahwa patung-patung batu dan situs megalitik yang tersebar di Sumatra Selatan merupakan hasil kutukan Si Pahit Lidah terhadap manusia, hewan, dan benda yang mengabaikannya. Menurut legenda, setiap makhluk atau benda yang membuatnya marah atau tidak menggubris panggilannya akan disumpah menjadi batu. Para arkeolog menjelaskan bahwa benda-benda ini sebenarnya adalah peninggalan budaya megalitik yang berusia ribuan tahun, namun kepercayaan masyarakat tetap mengaitkannya erat dengan figur Serunting Sakti.
4. Bagaimana akhir kisah Si Pahit Lidah dalam berbagai versi cerita?
Terdapat beberapa versi mengenai akhir kisah Si Pahit Lidah. Dalam versi pertarungan dengan Si Mata Empat, ia tewas tertusuk pelepah enau dan kemudian bersama lawannya berubah menjadi batu. Dalam versi lain, setelah bertapa dan mendapat kesaktian, ia kembali ke keluarganya, meminta maaf kepada Aria Tebing, dan menggunakan kemampuannya untuk membantu sesama. Versi ketiga menyebutkan bahwa jenazahnya yang membatu dipecah-pecah dan dibawa oleh keturunannya ke berbagai daerah, menjelaskan mengapa banyak tempat mengklaim memiliki makam Si Pahit Lidah.
5. Apa pesan moral yang dapat dipetik dari legenda Si Pahit Lidah?
Legenda Si Pahit Lidah mengandung pesan moral yang mendalam. Pertama, sifat iri, serakah, dan sombong dapat menghancurkan hubungan, bahkan dengan keluarga sendiri. Kedua, setiap orang memiliki kelemahan yang bisa dimanfaatkan orang lain jika kita berlaku curang. Ketiga, kekuatan dan kelebihan harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk menyakiti sesama. Keempat, kesombongan hanya akan membawa kehancuran. Kelima, pertobatan dan permintaan maaf dapat memulihkan hubungan yang rusak, seperti yang dilakukan Serunting kepada Aria Tebing di akhir cerita.

