Datuk Sintai Jambi
Masyarakat Seberang Kota Jambi memercayai Datuk Sintai Jambi sebagai tokoh legendaris. Ia dipercaya sebagai pembawa agama Islam pertama di wilayah tersebut, sekitar 400 tahun silam. Kamu mungkin belum akrab dengan nama tersebut. Padahal, peziarah masih ramai mendatangi makam keramatnya, terutama saat musim Lebaran tiba. Alliya mengulas siapa sosok Datuk Sintai, asal-usulnya, perannya dalam sejarah Islam di Jambi, hingga lokasi makam yang bisa kamu kunjungi langsung.
Siapa Datuk Sintai?
Masyarakat mengenal Datuk Sintai sebagai ulama mualaf keturunan Tionghoa. Ia datang ke Jambi dan berjuang bersama Kerajaan Melayu Jambi pada masa itu. Nama “Sintai” sendiri berasal dari bahasa Cina, menandakan garis keturunan leluhurnya. Sepanjang hidupnya, Datuk Sintai turut membantu perjuangan kerajaan setempat. Berkat jasanya, ia mendapatkan sebidang wilayah Pecinan di kawasan Seberang Kota Jambi.
Berkat jasanya pula, Datuk Sintai menikahi salah satu putri bangsawan Kerajaan Melayu Jambi. Pernikahan tersebut memperkuat posisinya di tengah masyarakat setempat. Selain itu, pernikahan tersebut juga membuka jalan bagi penyebaran ajaran Islam secara lebih luas.
Asal-Usul dan Latar Belakang Datuk Sintai
Menurut penuturan Datuk Hamid Fauzi, tokoh sepuh di Kelurahan Mudung Laut, Datuk Sintai memang berasal dari Cina. Warga setempat memercayai kisah tersebut secara turun-temurun. Namun, catatan tertulis mengenai riwayat hidupnya terbilang minim. Sebagian keturunan Datuk Sintai masih tinggal di sekitar Kelurahan Mudung Laut hingga kini. Salah satunya adalah Datuk Somad, generasi kedelapan dari jalur istri.
Datuk Somad menyebutkan bahwa Datuk Sintai memiliki 12 orang anak. Salah satu putrinya menikah dengan seorang ulama besar bernama Sayid Husin bin Ahmad Baragbah. Sosok tersebut kelak menjadi lebih populer sebagai penyebar Islam di Jambi.
Peran Datuk Sintai dalam Penyebaran Islam di Jambi
Datuk Sintai berperan sebagai perintis dakwah Islam di Jambi. Namun, syiar yang dibawanya masih berskala kecil. Bandingkan hal tersebut dengan menantunya, Sayid Husin bin Ahmad Baragbah, seorang ahli agama asal Arab yang datang dengan misi utama menyebarkan Islam. Masyarakat meyakini Sayid Husin sebagai keturunan ke-27 dari Sayyidina Husin, cucu Nabi Muhammad SAW. Karena itu, kapasitas keilmuannya jauh lebih populer di kalangan masyarakat luas.
Perbedaan skala dakwah tersebut membuat nama Sayid Husin lebih dikenal sebagai simbol penyebaran Islam di Jambi. Sementara itu, peran Datuk Sintai sebagai perintis awal justru sering luput dari catatan sejarah formal.
Lokasi dan Kondisi Makam Keramat Datuk Sintai
Makam Keramat Datuk Sintai berada di Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Seberang Kota Jambi. Lokasinya tak jauh dari kompleks permakaman Kampung Arab Melayu. Kompleks makam tersebut berukuran sekitar 1,5 x 3 meter dengan nisan berwarna biru muda. Nisan asli sebenarnya berbahan kayu bulian berukuran besar. Beberapa tokoh setempat kemudian memugarnya pada 5 Desember 2001. Tokoh-tokoh tersebut antara lain S Hasan bin Syeh, R Sumadi, Arifin Marzuki, dan R Sudaryono Sultan Raja Emas.
Di sekitar makam utama, kamu juga akan menemukan beberapa makam keturunan Datuk Sintai. Sayangnya, lokasi tersebut tidak menyimpan makam istrinya. Warga menduga makam istri Datuk Sintai berada di kawasan Tambak, dekat makam Sayid Husin. Tak jauh dari kompleks makam, terdapat pula sebuah kolam kering. Masyarakat memercayai kolam tersebut sebagai bekas tempat pemandian Datuk Sintai pada masa hidupnya.
Kampung Arab Melayu: Jejak Akulturasi Tiga Budaya
Masyarakat mengenal kawasan makam Datuk Sintai dengan nama Kampung Arab Melayu. Kampung tersebut menjadi salah satu perkampungan tertua di Jambi. Lokasinya berada di Kelurahan Tahtatul Yaman, Kecamatan Pelayangan Seberang. Warga biasa menyingkatnya menjadi Sekoja. Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera, memisahkan kampung tersebut dari pusat Kota Jambi.
Sejarawan setempat meyakini Kampung Arab Melayu sebagai titik awal tumbuhnya komunitas Islam di Provinsi Jambi. Perkembangan tersebut terjadi sejak abad ke-13. Dahulu, kawasan tersebut menjadi persinggahan para saudagar dari Tiongkok dan Arab. Persinggahan itulah yang melahirkan akulturasi budaya yang khas.
Kamu bisa melihat jejak perpaduan budaya tersebut lewat arsitektur rumah panggung khas Melayu. Rumah-rumah tersebut memuat ornamen bergaya naga, berdampingan dengan kaligrafi Arab pada dinding maupun atapnya. Perpaduan itulah yang membuat warga juga menjuluki kawasan tersebut Kampung Pecinan Jambi.
Cek, salah seorang warga Kelurahan Tahtatul Yaman, menuturkan suasana kampung tersebut. Menurutnya, suasana Kampung Arab Melayu terasa begitu tenang dan damai setiap kali Lebaran tiba. Warga saling bersilaturahmi, dan rumah para tokoh agama menjadi tujuan kunjungan pertama. Ia menegaskan bahwa masyarakat dari berbagai etnis hidup rukun tanpa konflik. Kerukunan tersebut sudah terjalin sejak generasi nenek moyang mereka.
Ringkasan Fakta Datuk Sintai Jambi
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Datuk Sintai |
| Asal usul | Keturunan Tionghoa, mualaf |
| Peran | Perintis penyebaran Islam di Jambi, sekitar 400 tahun lalu |
| Lokasi makam | Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Seberang Kota Jambi |
| Ukuran makam | Sekitar 1,5 x 3 meter |
| Tahun pemugaran nisan | 5 Desember 2001 |
| Hubungan keluarga | Mertua dari Sayid Husin bin Ahmad Baragbah |
| Jumlah anak | 12 orang |
| Kawasan sekitar | Kampung Arab Melayu / Kampung Pecinan Jambi |
| Waktu ramai ziarah | Musim Lebaran |
Nilai Sejarah dan Wisata Religi bagi Kamu yang Berkunjung ke Jambi
Bagi kamu yang sedang merencanakan liburan ke Jambi, coba sempatkan singgah ke Kampung Arab Melayu. Terutama saat momen Lebaran, kunjungan tersebut bisa menjadi pengalaman wisata religi yang berkesan. Selain menapaki sejarah masuknya Islam di Jambi, kamu juga akan merasakan suasana perkampungan tua. Kampung tersebut masih mempertahankan rumah panggung khas Melayu hingga kini.
Untuk menuju kawasan tersebut, kamu bisa berjalan kaki melewati jembatan pedestrian. Kamu juga bisa menyewa perahu tradisional bernama ketek. Tarifnya berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 sekali jalan.
Jangan lupa bagikan artikel tersebut kepada teman atau keluarga yang tertarik dengan sejarah dan wisata religi Nusantara. Dengan begitu, generasi sekarang akan semakin mengenal kisah Datuk Sintai Jambi secara luas.
Kisah Datuk Sintai mengajarkan satu hal penting. Peradaban Islam di Jambi tidak lahir dari satu jalur budaya saja, melainkan tumbuh dari akulturasi Tionghoa, Arab, dan Melayu yang berpadu dalam damai selama ratusan tahun.
Baca juga:
- Putri Mayang Mangurai: Legenda Agung di Balik Nama Kota Jambi
- Angso Duo: Legenda Sepasang Angsa di Balik Berdirinya Kota Jambi
- Putri Pinang Masak: Kisah Lengkap 3 Versi Legenda Melayu (Jambi, Sumsel, Riau)
- Legenda Pulau Senua: Kisah Kesombongan yang Menjelma Menjadi Batu
- Asal Usul Danau Dendam Tak Sudah: Legenda dan Sejarah di Bumi Rafflesia
FAQ
1. Siapa Datuk Sintai dan mengapa ia penting bagi sejarah Jambi?
Datuk Sintai adalah ulama mualaf keturunan Tionghoa. Masyarakat memercayainya sebagai perintis penyebaran Islam pertama di Jambi, sekitar 400 tahun lalu. Menantunya, Sayid Husin bin Ahmad Baragbah, kemudian melanjutkan peran tersebut secara lebih luas.
2. Di mana lokasi Makam Keramat Datuk Sintai berada?
Makam tersebut terletak di Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Seberang Kota Jambi. Lokasinya satu kawasan dengan kompleks permakaman Kampung Arab Melayu.
3. Apa hubungan Datuk Sintai dengan Sayid Husin bin Ahmad Baragbah?
Salah satu putri Datuk Sintai menikah dengan Sayid Husin bin Ahmad Baragbah. Sayid Husin merupakan ulama besar keturunan ke-27 Sayyidina Husin. Karena itu, keduanya memiliki ikatan mertua dan menantu.
4. Kapan waktu terbaik berziarah ke Makam Datuk Sintai?
Musim Lebaran menjadi waktu paling ramai bagi peziarah. Tradisi silaturahmi masyarakat Kampung Arab Melayu turut mendorong ramainya kunjungan tersebut.
5. Mengapa kawasan makam Datuk Sintai disebut Kampung Pecinan Jambi?
Sebutan tersebut muncul karena Datuk Sintai berasal dari Tionghoa. Ia juga pernah menerima wilayah Pecinan di kawasan tersebut. Jejak akulturasi budaya Tionghoa pun masih terlihat hingga sekarang.
Referensi
- Il Yasin, N., & Syuhada, S. (2020). Syair dalam Pendidikan Islam Madrasah As’ad Jambi Seberang 1944-1970. Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies, 4(2), 189–202. https://doi.org/10.30983/it.v4i2.3544
- Kusuma, A. Y., & Aman. (2021). Budaya keagamaan Arab Melayu Seberang Kota Jambi. Jurnal Lektur Keagamaan, 19(1), 239–268. https://doi.org/10.31291/jlka.v19i1.899
- Nasution, R., & Effendi, R. (2022). Islam dan sejarahnya pada masyarakat Jambi Seberang. https://www.researchgate.net/publication/335864612_ISLAM_DAN_SEJARAHNYA_PADA_MASYARAKAT_JAMBI_SEBERANG
- Anwar, K. (2022). Kerajaan Jambi dan pengaruh Islam. https://www.researchgate.net/publication/365472875_Kerajaan_Jambi_dan_Pengaruh_Islam
Alliya Putri Pasla, seorang penulis yang berpengalaman pada bidang wisata kuliner, cerita rakyat, destinasi wisata, dan warisan budaya. Menyajikan konten yang informatif, edukatif, dan menarik untuk menjelajahi budaya serta tradisi Nusantara.



