Sejarah di Balik Asal Usul Nama Bengkulu dari Legenda hingga Kolonial

Asal Usul Nama Bengkulu

Asal Usul Nama Bengkulu

Mencari tahu asal usul nama Bengkulu membawamu pada perjalanan menelusuri jejak sejarah, legenda rakyat, dan pengaruh kolonial yang melekat erat dengan identitas provinsi di pesisir barat Pulau Sumatera ini. Kamu mungkin sudah familiar dengan provinsi yang dijuluki Bumi Rafflesia tersebut. Namun, di balik nama yang kita kenal sekarang, tersimpan beragam cerita rakyat dan interpretasi historis yang menarik untuk disimak. Memahami latar belakang penamaan suatu daerah tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membantumu menghargai perjalanan panjang peradaban di tanah air.

Asal Usul Nama Bengkulu

Alliya ini akan membahas berbagai versi mengenai sejarah dan asal mula penamaan Bengkulu, mulai dari perspektif linguistik, peristiwa heroik, hingga peninggalan kolonial.

Jejak Nama dalam Bahasa dan Catatan Kolonial

Berdasarkan penelusuran sejarah, Bengkulu memiliki beberapa nama dalam bahasa bangsa asing yang pernah singgah. Dalam bahasa Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Benkoelen atau Bengkulen. Sementara itu, pedagang dan kolonialis Inggris menyebutnya Bencoolen . Dalam khazanah bahasa Melayu lokal, masyarakat dulu lebih akrab dengan sebutan Bangkahulu . Keberagaman penyebutan ini menunjukkan betapa wilayah pesisir barat Sumatera ini telah menjadi titik persinggahan berbagai bangsa sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum nama “Bengkulu” kita gunakan secara resmi hari ini.

Beberapa ahli juga mencoba menelusuri asal-usulnya dari perspektif linguistik. Salah satu teori menyebutkan bahwa nama “Bengkulu” berasal dari gabungan kata dalam bahasa Melayu, yaitu “bang” yang berarti “pesisir” dan “kulon” yang bermakna “barat” . Teori ini cukup masuk akal mengingat letak geografis Bengkulu yang memang berada di pesisir barat Pulau Sumatera, berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Pergeseran pengucapan dari masa ke masa kemudian mengubah “Bangkulon” menjadi “Bengkulu” seperti yang kita kenal sekarang. Pendekatan geografis ini sering muncul sebagai salah satu penjelasan paling logis dalam diskusi tentang sejarah penamaan daerah di Nusantara.

Ada pula teori lain yang mencoba menghubungkan nama ini dengan tempat jauh di Skotlandia. Sebagian kalangan memperkirakan nama Bencoolen versi Inggris diambil dari nama sebuah bukit di Cullen, Skotlandia, yaitu Ben Cullen. Namun, banyak sejarawan meragukan teori ini. Mereka berpendapat bahwa bukanlah kebiasaan masyarakat Melayu menamai wilayahnya dengan nama tempat asing yang tidak mereka kenal sama sekali . Teori ini dinilai kurang memiliki dasar bukti yang kuat dibandingkan dengan sumber-sumber lokal.

Legenda “Bangkai di Hulu”: Kisah Perang Antar Kerajaan

Sumber tradisional memberikan perspektif berbeda yang lebih dramatis. Kamu akan menemukan kisah yang menyebutkan bahwa nama Bangkahulu berasal dari kata Bangkai dan Hulu. Masyarakat meyakini istilah ini lahir dari sebuah peristiwa kelam masa lampau.

Konon, pada zaman dahulu, terjadi peperangan sengit antara kerajaan-kerajaan kecil yang berada di wilayah Bengkulu. Pertempuran dahsyat tersebut menimbulkan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Peristiwa berdarah ini terjadi di area hulu Sungai Bengkulu. Mayat-mayat korban perang bergelimpangan dan tidak sempat terurus di hulu sungai tersebut. Pemandangan mengenaskan itulah yang kemudian membuat orang menyebut daerah itu sebagai “Bangkaihulu”. Seiring perjalanan waktu dan pergeseran lidah dalam pengucapan, sebutan tersebut berubah menjadi Bangkahulu dan kemudian Bengkulu .

Legenda Putri Gading Cempaka

Dari sekian banyak cerita, ada satu legenda yang paling dikenal dan hidup di tengah masyarakat Bengkulu. Kisah ini berpusat pada sebuah peristiwa heroik penolakan lamaran dari Kerajaan Aceh.

Alkisah, di wilayah Bengkulu berdiri Kerajaan Sungai Serut yang dipimpin oleh Ratu Agung. Beliau memiliki seorang putri bungsu yang terkenal akan kecantikannya, bernama Putri Gading Cempaka. Kabar tentang kecantikan putri ini sampai ke telinga seorang pangeran dari Kerajaan Aceh. Sang pangeran kemudian mengirimkan utusan untuk melamar Putri Gading Cempaka. Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Raja Sungai Serut yang baru, yaitu Anak Dalam, kakak kandung sang putri yang telah menggantikan Ratu Agung.

Penolakan ini memicu kemarahan Kerajaan Aceh. Mereka mengirimkan armada perang besar-besaran menuju Sungai Serut untuk menyerang. Mengetahui hal ini, Raja Anak Dalam tidak tinggal diam. Ia menyusun siasat cerdik dengan memerintahkan pasukannya menebang pohon-pohon besar dan menghanyutkan batang-batang kayu tersebut ke aliran sungai yang akan dilalui musuh. Tujuannya jelas, yaitu menghadang laju kapal-kapal perang Aceh.

Saat pasukan Aceh tiba dan mendapati kapal-kapal mereka terhalang oleh tumpukan kayu di sungai, kekacauan pun terjadi. Di tengah kesulitan itu, para prajurit Aceh berteriak, “Empang ka hulu! Empang ka hulu!” yang memiliki arti “Hadang ke hulu!” atau “Bendung dari hulu!”. Teriakan ini merupakan ekspresi frustrasi mereka karena laju pasukan terhambat. Seruan perang “Empang ka hulu” inilah yang kemudian melekat dan dipercaya menjadi cikal bakal nama Bangkahulu dan akhirnya Bengkulu.

Pengaruh Kerajaan Lokal dan Masa Kolonial

Sebelum nama ini dikenal luas, di wilayah tersebut tumbuh dan berkembang sejumlah kerajaan kecil berdasarkan etnis. Beberapa di antaranya adalah Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Pat Petulai, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Indera Pura, dan Kerajaan Gedung Agung. Pada abad XV, kerajaan-kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten, yang kemudian menjadikan mereka sebagai wilayah vazal atau bawahan .

Pada tahun 1685, Inggris masuk dan berpijak di Bengkulu. Mereka menjadikan wilayah ini sebagai basis perdagangan, terutama lada, dan bertahan selama kurang lebih 139 tahun. Jejak kekuasaan Inggris masih dapat kamu saksikan hingga kini, salah satunya adalah Benteng Marlborough yang megah. Benteng yang dibangun antara tahun 1714 hingga 1719 ini menjadi saksi bisu perlawanan rakyat Bengkulu terhadap kolonialisme. Pada tahun 1824, melalui Traktat London, Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda sebagai bagian dari pertukaran wilayah kolonial .

Bengkulu kemudian ditetapkan sebagai provinsi di Indonesia pada tanggal 18 November 1968 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967. Kota Bengkulu, yang namanya sarat akan sejarah dan legenda ini, resmi menjadi ibu kotanya.

Asal usul nama Bengkulu tersusun dari serpihan cerita rakyat, catatan kolonial, dan peristiwa sejarah. Dari teori geografis “pesisir barat”, kisah tragis “bangkai di hulu”, hingga seruan heroik “Empang ka hulu” dari legenda Putri Gading Cempaka, semua memberikan warna pada identitas provinsi yang berjuluk “Bumi Rafflesia”.

Bagikan artikel ini kepada teman dan keluargamu agar mereka juga mengetahui kisah menarik di balik nama sebuah daerah.

Referensi:

  1. Pemerintah Kota Bengkulu. Sejarah Kota Bengkulu. Profil Kota Bengkulu. Diakses dari https://profil.bengkulukota.go.id/sejarah-kota-bengkulu/ 
  2. Saputra, H. A., Osvita, H., & Osvita Sari, Y. (2025). Asal-usul Nama Tempat di Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Lintang Aksara4(1), 1–14. https://doi.org/10.22437/jla.v4i1.44523
  3. Febriyanto, D., & Widodo, M. (2021). Local Wisdoms in Bengkulu Play Script “Sayembara Putri Gading Cempaka” by Agus Setiyanto. LITE: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya17(2), 150–159. https://doi.org/10.33633/lite.v17i2.5049

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa cerita rakyat paling terkenal tentang asal usul nama Bengkulu?

Cerita paling terkenal adalah legenda Putri Gading Cempaka dari Kerajaan Sungai Serut. Penolakan lamaran seorang pangeran Aceh memicu perang besar. Saat kapal perang Aceh terhambat batang kayu di sungai, prajurit mereka berteriak “Empang ka hulu!”. Seruan inilah yang dipercaya menjadi asal mula nama Bangkahulu, yang kemudian berubah menjadi Bengkulu.

2. Apa arti “Empang ka hulu” dalam legenda Bengkulu?

“Empang ka hulu” berasal dari bahasa Melayu setempat yang berarti “Hadang ke hulu” atau “Bendung dari bagian hulu sungai”. Teriakan ini merujuk pada upaya untuk menghalau musuh yang datang dari hilir dengan cara menghadang atau membendung sungai menggunakan batang kayu.

3. Selain legenda, dari mana lagi nama Bengkulu berasal?

Dari sisi linguistik, nama Bengkulu diduga berasal dari kata “Bang” (pesisir) dan “Kulon” (barat) yang merujuk pada letak geografisnya di pesisir barat Sumatera. Ada juga versi tradisional lain yang mengaitkannya dengan kata “Bangkaihulu” akibat banyaknya korban perang di hulu sungai di masa lampau . Dalam catatan asing, Inggris menyebutnya Bencoolen dan Belanda menyebutnya Benkoelen.

4. Siapa tokoh utama dalam legenda asal usul Bengkulu?

Tokoh utamanya adalah Putri Gading Cempaka, seorang putri cantik dari Kerajaan Sungai Serut. Kakak laki-lakinya, Raja Anak Dalam, juga memegang peran penting sebagai pemimpin kerajaan yang memberikan perlawanan. Tokoh lainnya adalah pangeran dari Kerajaan Aceh yang menjadi antagonis dalam kisah ini.

5. Apakah nama “Bencoolen” yang digunakan Inggris ada hubungannya dengan legenda lokal?

Nama “Bencoolen” kemungkinan besar merupakan adaptasi Inggris dari penyebutan lokal “Bangkahulu”. Meski ada teori yang mengaitkannya dengan nama bukit di Skotlandia, teori tersebut dianggap kurang berdasar karena bukan kebiasaan masyarakat Melayu menamai daerah dengan nama asing yang jauh dan tidak dikenal. Kemungkinan terbesar, mereka hanya menyesuaikan pengucapan “Bangkahulu” ke dalam lidah mereka.

Scroll to Top