Candi Solok Sipin
Candi Solok Sipin menyimpan cerita panjang tentang kejayaan Hindu-Buddha di Sumatera yang jarang orang ketahui. Situs bersejarah tersebut berdiri di Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi, hanya sekitar 400 meter dari tepi utara Sungai Batanghari. Kamu yang tertarik dengan arkeologi Nusantara dan warisan budaya Melayu kuno akan menemukan banyak hal menarik dari peninggalan tersebut, mulai dari arca Buddha kuno hingga makara bertuliskan prasasti kuno berusia ribuan tahun.
Alliya mengajak kamu menelusuri sejarah, temuan artefak, hingga status cagar budaya dari situs tersebut secara lengkap dan mendalam.
Sejarah dan Asal-usul Candi Solok Sipin
Candi Solok Sipin berasal dari periode klasik Hindu-Buddha dan menjadi bagian penting dari sejarah peradaban Melayu kuno di Sumatera. Catatan penemuan situs tersebut pertama kali muncul dari laporan orang Belanda yang berkunjung ke Jambi pada masa kolonial. Peneliti Inggris bernama S.C. Crooke mempublikasikan keberadaan candi tersebut pertama kali pada tahun 1820 melalui laporan survei Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.
Selanjutnya, arkeolog asal Belanda melanjutkan penelitian pada tahun 1937 dan berhasil menemukan arca Buddha bergaya post-Gupta setinggi 1,72 meter. Gaya seni arca tersebut mengarahkan para ahli untuk memperkirakan usia benda tersebut berasal dari abad ke-8 Masehi. Tulisan “Dang Acharrya Syuta” pada arca memperkuat dugaan periode tersebut.
Ahli arkeologi belum sepenuhnya sepakat mengenai waktu pasti pembangunan candi karena minimnya sumber sejarah tertulis. Satyawati Suleiman menilai arca Buddha situs tersebut sezaman dengan arca-arca di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, sementara Nik Hassan justru menduga usia arca lebih tua, kemungkinan dari abad ke-7 Masehi. Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan betapa kompleksnya jejak sejarah Hindu-Buddha di kawasan Jambi.
Lokasi dan Kondisi Situs Saat Ini
Kamu bisa menemukan situs Candi Solok Sipin di tengah permukiman padat penduduk Kelurahan Legok. Kondisi lingkungan yang padat membuat tim peneliti mengalami kesulitan mengidentifikasi struktur bangunan bata secara menyeluruh. Bahkan, warga sudah membangun sejumlah rumah di atas gundukan tanah yang menyimpan reruntuhan candi.
Pemerintah setempat kini memagari kawasan tersebut dengan kawat besi di atas pondasi beton setinggi 1,5 hingga 2,5 meter pada sisi utara, timur, dan sebagian selatan. Pada sisi selatan lainnya serta sisi barat yang berbatasan langsung dengan rumah warga, pagar pembatas hanya menggunakan beton biasa. Area situs tersebut memiliki luas sekitar 325 meter persegi.
Artefak Bersejarah yang Ditemukan
Tim arkeologi menemukan beragam artefak berharga di situs Candi Solok Sipin. Setiap benda memberikan petunjuk penting tentang latar belakang agama Buddha serta gaya seni tinggi yang berkembang pada masanya. Tabel berikut merangkum temuan utama beserta karakteristiknya.
| Artefak | Bahan | Ukuran/Detail | Lokasi Penyimpanan |
|---|---|---|---|
| Arca Buddha | Batu pasir | Tinggi 1,72 meter, posisi berdiri memakai jubah | Museum Nasional Indonesia |
| Makara (4 buah) | Batu pasir | Tinggi 1,10 m, 1,21 m, 1,40 m, dan 1,45 m | Museum Nasional Indonesia |
| Stupa (batu catur) | Batu | Muncul ke permukaan tahun 1954 | Museum Siginjai Jambi |
| Lapik | Batu | Bagian alas arca/stupa | Museum Siginjai Jambi |
Keempat makara memiliki keunikan tersendiri karena masing-masing menampilkan sosok raksasa yang berdiri sambil membuka mulut makara. Raksasa tersebut membawa tali dan tongkat besar yang ujungnya berhiaskan motif kuntum bunga. Salah satu makara memuat pahatan angka 986 Saka atau 1064 Masehi beserta tulisan “Mpu Dharmmawira”. Peneliti Belanda bernama Brandes pertama kali membaca dan menerbitkan prasasti tersebut pada tahun 1902.
Para ahli menilai gaya seni pahatan makara tersebut setara dengan karya seni terbaik yang berkembang di Jawa pada abad ke-8 Masehi. Kualitas artistik setinggi itu menegaskan bahwa kawasan Jambi pernah menjadi pusat kebudayaan penting di jalur perdagangan maritim Sumatera, sejalan dengan kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.
Proses Penelitian dan Ekskavasi
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan ekskavasi resmi pertama pada tahun 1983 dan berhasil menampakkan sisa bangunan bata. Namun, letak situs yang berada di tengah permukiman padat membuat tim tidak dapat memetakan denah bangunan secara utuh. Sebagian besar fondasi bangunan sudah mengalami kerusakan dan hilang seiring waktu.
Balai Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala melanjutkan upaya pelestarian pada tahun 1995. Tim berhasil membuka permukaan struktur candi dan menemukan pondasi stupa beserta fragmen keramik dan tembikar kuno. Temuan tersebut membuktikan bahwa kawasan Legok telah menjadi pusat aktivitas manusia sejak abad ke-8 Masehi hingga masa Kesultanan Jambi pada abad ke-16 sampai ke-20, sebagaimana keberadaan Istana Tanah Pilih di lokasi yang sama menunjukkan.
Status Cagar Budaya Candi Solok Sipin
Pemerintah Kota Jambi menetapkan Candi Solok Sipin sebagai Cagar Budaya resmi melalui Surat Keputusan Walikota Nomor 283 Tahun 2023 pada tanggal 21 Juli 2023. Penetapan tersebut menjadi langkah penting untuk melindungi peninggalan arkeologi dari ancaman alih fungsi lahan dan kerusakan akibat perkembangan permukiman di sekitarnya.
Sayangnya, kerusakan fondasi yang parah membuat proses pemugaran candi menjadi mustahil hingga saat ini. Kondisi tersebut menjadikan pelestarian dan edukasi publik sebagai langkah paling realistis untuk menjaga nilai sejarah situs bagi generasi mendatang.
Nilai Sejarah dan Budaya bagi Generasi Sekarang
Candi Solok Sipin bukan sekadar reruntuhan bata biasa. Situs tersebut membuktikan bahwa Jambi pernah menjadi bagian penting dari jaringan kebudayaan Hindu-Buddha yang membentang di Sumatera, sejajar dengan kemegahan Borobudur dan Prambanan di Jawa. Kamu yang ingin memahami akar peradaban Melayu kuno, jalur perdagangan Sriwijaya, hingga perkembangan agama Buddha di Nusantara bisa menjadikan situs tersebut sebagai referensi sejarah yang kaya makna.
Keberadaan arca, makara, dan stupa yang kini berada di Museum Nasional Indonesia dan Museum Siginjai Jambi membuka peluang bagi kamu untuk melihat langsung artefak autentik tersebut. Kunjungan ke museum tersebut memberikan pengalaman edukatif sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya.
Jangan simpan sendiri cerita menarik tentang Candi Solok Sipin. Bagikan artikel tersebut kepada teman atau komunitas pencinta sejarah agar semakin banyak orang mengenal kekayaan arkeologi Jambi yang selama ini luput dari sorotan.
Candi Solok Sipin membuktikan bahwa reruntuhan bata sederhana bisa menyimpan cerita besar tentang kejayaan sebuah peradaban.
Baca juga:
- Menelusuri 8 Tempat Bersejarah di Jambi sebagai Warisan Nusantara
- Sejarah Rumah Batu Olak Kemang: Warisan Akulturasi Budaya di Tepian Sungai Batanghari
- Candi Muaro Jambi: Kompleks Percandian Buddha Terluas di Asia Tenggara
- Mengenal Sosok Legendaris Orang Kayo Hitam, Raja Sakti Pendiri Kesultanan Jambi
- Putri Mayang Mangurai: Legenda Agung di Balik Nama Kota Jambi
FAQ
1. Di mana lokasi Candi Solok Sipin?
Candi Solok Sipin berada di Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi, sekitar 400 meter dari sisi utara Sungai Batanghari.
2. Apa saja artefak yang ditemukan di Candi Solok Sipin?
Tim arkeologi menemukan satu arca Buddha setinggi 1,72 meter, empat makara berukuran 1,10 hingga 1,45 meter, satu stupa, dan lapik batu. Sebagian besar artefak tersebut kini berada di Museum Nasional Indonesia dan Museum Siginjai Jambi.
3. Kapan Candi Solok Sipin dibangun?
Para ahli memperkirakan candi tersebut berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi berdasarkan gaya seni arca Buddha dan tulisan pada prasasti makara yang berangka tahun 1064 Masehi.
4. Mengapa Candi Solok Sipin tidak bisa dipugar?
Sebagian besar fondasi bangunan sudah rusak dan hilang akibat perkembangan permukiman padat penduduk di sekitar situs, sehingga proses pemugaran menjadi tidak memungkinkan.
5. Kapan Candi Solok Sipin ditetapkan sebagai Cagar Budaya?
Pemerintah Kota Jambi menetapkan situs tersebut sebagai Cagar Budaya resmi melalui Surat Keputusan Walikota Nomor 283 Tahun 2023 pada tanggal 21 Juli 2023.
Referensi
- Adi, A. M. W., Izza, N. A., & Supian, S. (2021). Upaya peningkatan kepedulian masyarakat kelurahan legok terhadap warisan budaya situs Candi Solok Sipin dan sekitarnya. Jurnal Pasca Dharma Pengabdian Masyarakat, 2(1), 1–12. https://doi.org/10.17509/jpdpm.v2i1.27834
- Izza, N. A., Adi, A. M. W., Mahanani, N., Resiyani, W., & Pratama, A. S. G. (2020). Pengembangan potensi batik berbasis tinggalan arkeologi di Kelurahan Legok Kota Jambi. E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 11(4), 573–579. https://doi.org/10.26877/e-dimas.v11i4.6626
- Adi, A. M. W., Izza, N. A., Mahanani, N., Resiyani, W., & Pratama, A. S. G. (2022). Pengembangan motif batik berbasis tinggalan arkeologi Kelurahan Legok Kota Jambi tahap II. Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. https://repository.unja.ac.id/32267/1/2359-Article%20Text-8634-1-10-20220323.pdf
- Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. (n.d.). Candi Solok Sipin. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. https://arkenas.kemdikbud.go.id/contents/read/article/mi6o3s_1510541702/candi-solok-sipin
- Sumber cetak berikut dikutip secara konsisten dalam literatur ilmiah tentang Candi Solok Sipin di atas, namun kamu perlu mengetahui bahwa naskah aslinya berupa dokumen kolonial atau buku cetak lama yang belum memiliki tautan daring resmi:
- Neeb, C. J. (1902). Het een en ander over Hindoe oudheden in het Djambische. Dalam J. Brandes (Ed.), Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (Jil. 45, hlm. 120–133). Batavia: Lange & Co.
- Schnitger, F. M. (1937). The archaeology of Hindoo Sumatra. Leiden: E. J. Brill.
- Suleiman, S. (1977). The archaeology and history of West Sumatra (Bulletin of the Research Centre of Archaeology of Indonesia No. 12). Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Departemen P & K.
- Soekmono, R. (1987). Chandi Gumpung of Muara Jambi: A platform instead of a conventional chandi?. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Hasan, Y. (2014). Menelusuri asal usul bangsa Melayu. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, 3(1), 27–32.
- Utomo, B. B. (1992). Batanghari riwayatmu dulu. Dalam Seminar Sejarah Melayu Kuno. Jambi.
Alliya Putri Pasla, seorang penulis yang berpengalaman pada bidang wisata kuliner, cerita rakyat, destinasi wisata, dan warisan budaya. Menyajikan konten yang informatif, edukatif, dan menarik untuk menjelajahi budaya serta tradisi Nusantara.



