Rumah Tuo Rantau Panjang, Rumah Adat Suku Batin Jambi Berusia 700 Tahun

Rumah Tuo Rantau Panjang

Rumah Tuo Rantau Panjang

Rumah Tuo Rantau Panjang adalah kompleks perkampungan tradisional di Desa Baruh, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Kompleks ini menyimpan puluhan rumah panggung kuno peninggalan Suku Batin. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bangunan ini berdiri sejak tahun 1330 Masehi dan mulai dihuni pada 1332. Karena itu, banyak orang menganggapnya sebagai salah satu rumah adat tertua yang masih lestari di Indonesia. Pemerintah bahkan menetapkan kawasan ini sebagai situs cagar budaya sejak tahun 1996 karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang otentik.

Bagi kamu penggemar wisata sejarah dan budaya, tempat ini layak masuk daftar kunjungan. Artikel Alliya berikut ini mengulas asal-usul, arsitektur, rute perjalanan, hingga daya tarik yang bisa kamu nikmati saat berkunjung ke Rumah Tuo Rantau Panjang.

Sekilas tentang Rumah Tuo Rantau Panjang

Secara administratif, kawasan rumah tuo berada di Desa Rantau Panjang (dahulu dikenal sebagai Desa Baruh), Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi. Luas wilayah perkampungan ini mencapai 1.750 hektare berupa area perkebunan. Sumber-sumber menyebutkan jumlah rumah tradisional yang masih bertahan berkisar 60 hingga 80 unit. Namun, sebagian rumah kini sudah memakai batu sebagai dinding dan pondasi.

Uniknya, rumah panggung ini tidak memakai paku sama sekali. Konstruksinya mengandalkan sistem pasak dan sambungan kayu, sehingga bangunan tetap lentur dan tahan guncangan gempa. Selain itu, kayu sendi yang berfungsi sebagai bantalan tiang penyangga juga menjadi salah satu kunci ketahanan struktur selama ratusan tahun.

Sejarah dan Asal-Usul Suku Batin

Penduduk Rantau Panjang berasal dari Dusun Koto Rayo, sebuah kampung yang dahulu dipimpin oleh Poyang Depati bersama putrinya, Puteri Pinang Masak. Pada masa itu, Raja Tun Telanai menginginkan sang putri dan mengancam akan menyerang. Untuk menghindari serangan tersebut, warga Koto Rayo memutuskan “melimunkan” atau menghilangkan dusun mereka, lalu berpencar ke berbagai wilayah.

Sebanyak 60 kepala keluarga kemudian terbagi dalam Marga Batin Lima. Poyang Depati membawa 19 kepala keluarga menuju Ujung Tanjung di pinggir Sungai Semayo, lokasi yang kini dikenal sebagai Dusun Kampung Baruh. Di tempat itulah rombongan mendirikan Rumah Tuo pada 1330 Masehi. Menurut Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Tabir, Mukhtar YS, keturunan Poyang Depati kini sudah mencapai generasi ke-14. Awalnya masyarakat menganut kepercayaan animisme, tetapi mereka memeluk Islam pada 1653 Masehi, tepatnya pada masa generasi ketujuh.

Keunikan Arsitektur Rumah Tuo Rantau Panjang

Arsitektur rumah tuo mencerminkan filosofi sosial dan kepercayaan masyarakat Batin secara mendalam. Puluhan tiang kayu kulim yang tersusun rapi menyangga rumah panggung ini. Selain itu, pembagian ruangnya juga mengatur tata krama penghuni maupun tamu.

1. Tiang, Umpak, dan Pintu

Bangunan utama memiliki 24 hingga 26 tiang kayu berdiameter sekitar 21 cm. Tiang-tiang ini tersusun dalam enam baris berisi empat tiang, atau menurut catatan lain, empat baris berisi enam kolom. Tiap tiang berdiri di atas umpak kayu atau semen berukuran panjang 56 cm dan lebar 7 cm. Pada beberapa tiang bagian dalam, warga menggantungkan cangok, yaitu benda dari rotan kering yang dipercaya menangkal roh jahat.

Bangunan ini memiliki 11 pintu dengan ukuran dan teknik yang berbeda-beda. Pintu bagian selatan menggunakan engsel besi. Sementara itu, pintu bagian utara—termasuk empat pintu gedang berukir motif ombak—masih memakai teknik pasak tradisional. Uniknya, tinggi pintu masuk hanya sekitar satu meter. Karena itu, wisatawan harus menunduk saat memasuki rumah, sebuah simbol kesopanan yang tetap dijaga masyarakat setempat.

2. Pembagian Ruang dan Fungsinya

Tata ruang dalam rumah tuo mencerminkan struktur sosial adat Batin secara jelas. Berikut rincian ruang beserta fungsinya:

Nama RuangFungsi Utama
Masinding (Serambi)Tempat menerima dan mendudukkan tamu pria yang bukan saudara pemilik rumah
Ruang TengahTempat duduk gadis dan perempuan pemilik rumah saat musyawarah adat
Balai MelintangRuang utama untuk pemuka adat, alim ulama, dan tokoh masyarakat terhormat
Ruang GahoDapur tradisional dan tempat penyimpanan peralatan masak
Ruang MenalamTempat menyimpan barang pecah belah dan bahan makanan
Bilik MenalamKamar tertutup khusus untuk gadis pemilik rumah
Kolong RumahTempat menyimpan kayu bakar, lesung padi, dan area bermain anak

Atap bangunan berbentuk pelana yang menyerupai badan perahu, dengan kedua ujung bubungan menjulang ke atas. Dahulu atap memakai bahan ijuk. Namun, karena bahan ini kian sulit didapat, warga menggantinya dengan seng. Untuk dindingnya, warga memakai papan kayu meranti yang disusun vertikal. Mereka lalu menghiasinya dengan ukiran motif bunga tanjung, tampuk manggis, bunga cempaka, hingga motif menyerupai kepala gajah dengan belalai.

Rute dan Akses Menuju Rumah Tuo Rantau Panjang

Perjalanan menuju lokasi memerlukan sedikit kesabaran karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Dari Kota Jambi, kamu membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam sembilan menit dengan jarak 278 kilometer memakai kendaraan bermotor. Sebagai alternatif, kamu juga bisa berangkat dari Bandara Bungo melalui jalan lintas Sumatera. Rute ini bisa kamu tempuh sekitar satu jam 19 menit dengan jarak 58,3 kilometer memakai sepeda motor.

Sementara itu, jika kamu berangkat dari Kota Bangko, jaraknya hanya sekitar 30 kilometer. Kamu bisa menempuhnya dalam waktu kurang lebih 45 menit saja. Untungnya, jalan menuju desa ini tergolong baik, sehingga kendaraan roda empat pun bisa melaluinya dengan nyaman.

Aktivitas dan Daya Tarik Wisata

Berkunjung ke kampung rumah tuo memberikan pengalaman budaya yang autentik dan jarang kamu temukan di tempat lain. Berikut beberapa aktivitas yang layak kamu coba saat berada di lokasi.

  • Menjelajahi rumah tertua di ujung kampung. Salah satu rumah panggung yang berdiri di ujung desa dipercaya sebagai bangunan paling tua di antara deretan rumah lainnya. Rumah ini menyimpan koleksi benda kuno seperti hiasan kepala kerbau, tempat sirih, keramik antik, dan ambung untuk membawa hasil pertanian.
  • Menyaksikan upacara adat. Pada hari ketujuh bulan Syawal, masyarakat menggelar upacara penutupan Ramadan. Acara ini dimeriahkan tari-tarian, berbalas pantun, serta pertunjukan Silek Penyudon.
  • Berfoto dengan latar rumah panggung kuno. Arsitektur unik dan ukiran kayunya menjadi spot foto favorit wisatawan. Namun, mintalah izin pemilik rumah terlebih dahulu sebagai bentuk sopan santun.
  • Mencicipi kuliner khas setempat. Warga menyajikan berbagai hidangan tradisional Melayu Jambi yang bercita rasa khas dan jarang kamu temukan di kota besar.
  • Menikmati tari penyambutan Semayo. Sebagai bentuk keramahan, masyarakat kerap menyambut wisatawan yang datang berkunjung dengan tarian selamat datang.

Menurut Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Novie Hari Putranto, warga masih menjaga kelestarian warisan benda maupun non-benda di kawasan ini hingga sekarang. Sebagai contoh, mereka merawat rumah secara berkala dengan mengoleskan getah pohon ipuh serta rempah seperti tembakau dan cengkeh, agar struktur kayu tetap kokoh dan tahan rayap.

Fasilitas bagi Pengunjung

Meski berada di kawasan pedesaan, wisatawan tetap bisa menikmati beberapa fasilitas dasar. Desa ini menyediakan lahan parkir yang cukup luas mengingat kondisinya yang lapang. Selain itu, kamu juga tidak akan kesulitan menemukan masjid, karena mayoritas warga sudah memeluk Islam sejak abad ke-17. Untuk urusan penginapan, wisatawan umumnya kembali ke Kota Bangko yang menyediakan pilihan hotel dan penginapan lebih lengkap.

Penutup

Rumah Tuo Rantau Panjang membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan melewati ratusan tahun tanpa kehilangan makna dan fungsinya. Setiap tiang, ukiran, dan ruang dalam rumah panggung ini menyimpan cerita panjang tentang perjalanan Suku Batin, mulai dari masa animisme hingga memeluk Islam. Yuk, rencanakan kunjunganmu ke Merangin dan rasakan langsung suasana kampung tertua di Jambi ini. Jangan lupa juga bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang menyukai wisata sejarah dan budaya Nusantara. Sebab, Rumah Tuo Rantau Panjang bukan sekadar bangunan tua, melainkan jejak hidup peradaban yang terus berdiri kokoh melawan waktu.

FAQ

1. Di mana lokasi Rumah Tuo Rantau Panjang?

Kawasan ini berada di Desa Rantau Panjang (Desa Baruh), Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, sekitar 30 kilometer dari Kota Bangko.

2. Kapan Rumah Tuo Rantau Panjang dibangun?

Poyang Depati bersama 19 kepala keluarga dari Dusun Koto Rayo mendirikan bangunan ini pada tahun 1330 Masehi, lalu mulai menghuninya pada 1332.

3. Berapa jumlah rumah tradisional yang masih ada?

Jumlahnya berkisar antara 60 sampai 80 rumah panggung, tergantung catatan yang dipakai. Sebagian rumah bahkan sudah memakai bahan batu pada dinding dan pondasinya.

4. Apa keunikan konstruksi Rumah Tuo Rantau Panjang?

Bangunan ini tidak memakai paku sama sekali. Sebagai gantinya, konstruksinya mengandalkan sistem pasak dan kayu sendi sebagai bantalan tiang, sehingga tahan terhadap guncangan gempa bumi.

5. Berapa lama waktu tempuh dari Kota Jambi ke lokasi tersebut?

Perjalanan dari Kota Jambi memakan waktu sekitar enam jam sembilan menit dengan jarak 278 kilometer memakai kendaraan bermotor.

Referensi

  1. Alim Wijaya, A., Syarifuddin, & Novemy Dhita, A. (2025). Nilai-nilai kearifan lokal rumah adat Kajang Lako di Jambi. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, 10(1), 60–69. https://doi.org/10.36706/jc.v10i1.284
  2. Fadhilah, M. D., Ramadhan, I. A., Fuqoha, N. S., & Artiningrum, P. (2024). Pengaruh adat terhadap arsitektur dan adaptasi pada arsitektur tradisional orang Batin di Kampung Baruh, Kec. Tabir, Kab. Merangin, Jambi. Vitruvian: Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan, 14(2), 149–166. https://doi.org/10.22441/vitruvian.2024.v14i2.09
  3. Wiyana, B. (2016). Arti tiang rumah tradisional Suku Batin di Kampung Baruh, Jambi. Purbawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 5(1), 1–11. https://doi.org/10.24164/pw.v5i1.75
  4. Zikri, P., Saputra, D., & Faizin, M. (2026). Cagar budaya kawasan Rumah Tuo Desa Rantau Panjang Merangin: Kajian sejarah, nilai filosofis, dan strategi pelestarian warisan budaya lokal. Grata: Jurnal Inovasi Pendidikan, 3(2), 170–178. https://ejournal.mejailmiah.com/index.php/grata/article/view/439
Scroll to Top