Candi Kedaton Jambi: Jejak Peradaban Sriwijaya di Kompleks Muaro Jambi

Candi Kedaton Jambi

Candi Kedaton Jambi

Candi Kedaton Jambi menjadi bangunan induk terbesar di kompleks percandian Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Selain itu, situs tersebut menyimpan cerita panjang tentang kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu kuno. Oleh karena itu, kamu yang menyukai wisata sejarah dan arkeologi Nusantara sebaiknya memasukkan candi tersebut ke daftar kunjungan. Alasannya, kawasan tersebut pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha terbesar di Asia pada abad ke-7. Berikutnya, Alliya akan mengulas lokasi, arsitektur, temuan arkeologis, dan makna prasasti kuno pada tubuh candi tersebut. Dengan begitu, kamu akan menemukan data terbaru sekaligus gambaran pengalaman kunjungan lapangan.

Apa Itu Candi Kedaton Jambi?

Candi Kedaton merupakan candi Buddha berbahan bata merah. Lebih lanjut, bangunan tersebut berdiri di Situs Cagar Budaya Muaro Jambi, tepatnya di Desa Dusun Baru, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi. Selain itu, candi tersebut menjadi struktur terbesar dari puluhan reruntuhan di kompleks percandian Hindu-Buddha terluas se-Asia Tenggara. Adapun kawasan tersebut mencakup luas 3.981 hektare.

Nama “Kedaton” merujuk pada fungsi bangunan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Di samping itu, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal para bhiksu dan siswa. Pada masa lampau, mereka mempelajari filsafat, kedokteran, arsitektur, dan seni di tempat tersebut. Berbeda dengan candi lain yang hanya menjalankan fungsi pemujaan, Candi Kedaton kemungkinan besar berperan sebagai vihara atau asrama pendidikan agama Buddha.

Lokasi dan Cara Menuju Candi Kedaton Jambi

Kamu bisa mencapai kompleks Candi Kedaton dari pusat Kota Jambi. Umumnya, perjalanan darat memakan waktu sekitar 30 menit. Adapun titik candi berjarak sekitar 1.500 meter ke arah barat dari Candi Gedong II. Secara geografis, kawasan tersebut berada di tengah dataran yang sebagian wilayahnya masih ditumbuhi semak belukar.

InformasiKeterangan
Lokasi administratifDesa Dusun Baru, Kec. Marosebo, Kab. Muaro Jambi, Provinsi Jambi
Jarak dari Kota Jambi± 30 menit perjalanan darat
Harga tiket masukSekitar Rp9.000 per orang (dapat berubah sewaktu-waktu)
Jam operasional08.00–18.00 WIB
Luas pagar keliling200 x 230 meter (arah utara-selatan)
Ukuran bangunan induk26,3 x 27 meter

Sebelum berangkat, sebaiknya kamu mengecek jam buka dan harga tiket terbaru. Caranya, hubungi langsung pengelola kawasan. Pasalnya, kebijakan retribusi bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi lapangan.

Arsitektur dan Struktur Bangunan

1. Tembok Pagar Keliling dan Pembagian Ruang

Tembok pagar mengelilingi kompleks Candi Kedaton dengan ukuran 200 x 230 meter. Kemudian, tembok tersebut membentang dari utara ke selatan. Selanjutnya, tembok bata membagi halaman candi menjadi sembilan ruang berbeda. Di dalam ruang-ruang tersebut, arkeolog menemukan sedikitnya sepuluh reruntuhan bangunan. Secara khusus, reruntuhan itu mencakup bangunan induk, mandapa, gerbang, dan bangunan perwara berukuran lebih kecil.

2. Bangunan Induk: Struktur Terbesar di Muaro Jambi

Bangunan induk Candi Kedaton menempati posisi agak ke selatan dari halaman tengah. Adapun halaman tengah tersebut berukuran 92 x 123 meter. Dengan dimensi 26,3 x 27 meter, bangunan tersebut menyandang predikat struktur candi terbesar di seluruh Kompleks Muaro Jambi. Lebih jauh, ruang terbesar pada bagian kaki bangunan berukuran 16,25 x 16,25 meter dengan tinggi mencapai 7,20 meter. Batu kerakal mengisi penuh ruang tersebut, namun fungsi pastinya masih menjadi teka-teki arkeologis. Meski begitu, para peneliti menduga batu kerikil tersebut menstabilkan konstruksi agar bangunan tidak mudah runtuh.

3. Gapura Pintu Masuk dan Sepasang Makara

Sebuah gapura pintu masuk berdiri di sisi utara halaman. Namun, posisi gapura tersebut bergeser ke arah barat. Oleh sebab itu, gapura tersebut tidak sejajar dengan undakan bangunan utama maupun mandapa. Selanjutnya, dua pasang makara menghiasi kiri-kanan tangga gapura tersebut. Satu pasang menghadap keluar ke arah utara, sedangkan satu pasang lagi menghadap ke dalam ke arah selatan. Secara visual, ukiran makara pada Candi Kedaton tampak lebih halus dibandingkan ornamen pada bangunan utama. Karena itu, ornamen tersebut kerap menjadi objek foto favorit pengunjung.

Prasasti Aksara Jawa Kuno pada Makara

Salah satu keunikan yang membedakan Candi Kedaton dari candi lain di kompleks Muaro Jambi adalah keberadaan prasasti pendek pada tubuh makara. Tepatnya, pemahat mengukir dua baris tulisan pada bagian belalai makara sisi barat. Adapun tulisan tersebut berbunyi “pamursitanira mpu kusuma”. Berdasarkan bunyi tersebut, para epigraf menafsirkannya sebagai “tempat mengheningkan cipta atau bermeditasi Mpu Kusuma”. Meski demikian, sebagian ahli menawarkan tafsir alternatif, misalnya “persembahan dari Mpu Kusuma” atau “tempat sembahyang Mpu Kusuma”.

Selain itu, aksara pada prasasti tersebut menganut langgam kuadrat. Gaya penulisan tersebut berkembang di Kadiri, Jawa Timur, sekitar abad ke-11 Masehi. Uniknya, ciri khas aksara tersebut terletak pada teknik pahat yang menonjol atau timbul. Sebaliknya, kebanyakan prasasti lain menggunakan teknik pahat yang masuk ke permukaan batu. Pada makara sisi timur, pemahat menuliskan kalimat singkat berbunyi “so nga”. Hingga kini, maknanya masih menjadi bahan kajian para peneliti epigrafi.

Temuan Arkeologis Penting

1. Belanga Perunggu Berukuran Raksasa

Tim arkeolog menggali sisi timur Candi Kedaton dan menemukan sebuah belanga perunggu. Adapun belanga tersebut berdiameter sekitar satu meter dengan tinggi serupa. Umumnya, masyarakat menemukan wadah masak berukuran besar seperti itu di lingkungan asrama atau vihara Buddha. Di tempat tersebut, para bhiksu dan siswa menyiapkan makanan untuk kegiatan pujabhakti. Biasanya, mereka melakukan ritual tersebut dua kali sehari, yaitu pagi dan petang. Sebagai perbandingan, kamu bisa menjumpai tradisi serupa di negara-negara dengan komunitas Buddha besar, misalnya Bhutan, Tibet, Thailand, dan Myanmar.

2. Sumur Tua sebagai Sumber Air

Sebuah sumur tua masih mengalirkan air jernih di sekitar kompleks. Konon, usia sumur tersebut sezaman dengan candi. Karena itu, pengunjung yang berkesempatan mendekati area terbatas kerap menyempatkan diri mencicipi kesegaran air dari sumur bersejarah tersebut. Bagi banyak wisatawan, pengalaman tersebut menjadi bagian menarik dari penjelajahan situs.

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Candi Kedaton

Ketenaran Candi Kedaton semakin meningkat setelah sebuah momen penting terjadi pada Kamis, 7 April 2022. Pada hari itu, Presiden Joko Widodo bersama Ibu Iriana meninjau langsung lokasi tersebut. Dalam kunjungan tersebut, Presiden menegaskan pentingnya melestarikan jejak peradaban di kawasan Muaro Jambi. Alasannya, kompleks tersebut pernah menjadi pusat pendidikan terbesar se-Asia pada abad ke-7. Selain teologi, kompleks tersebut juga mencakup bidang kedokteran, obat-obatan, filsafat, arsitektur, dan seni.

Perbedaan Candi Kedaton di Berbagai Daerah

Kamu perlu berhati-hati saat mencari informasi tentang Candi Kedaton di internet. Pasalnya, tiga situs berbeda di Indonesia memakai nama yang sama.

Nama CandiLokasiAgama/Bahan
Candi Kedaton Muaro JambiKab. Muaro Jambi, JambiBuddha, bata merah
Candi Kedaton ProbolinggoKec. Tiris, Kab. Probolinggo, Jawa TimurHindu, batu andesit
Candi Kedaton TrowulanTrowulan, Kab. Mojokerto, Jawa TimurBatur bata merah

Ketiga situs tersebut memiliki latar sejarah yang berbeda. Selain itu, agama dan bahan bangunan setiap situs juga tidak sama. Oleh karena itu, pastikan tujuan yang tepat sebelum merencanakan perjalanan wisata sejarah.

Tips Berkunjung ke Candi Kedaton Jambi

  • Datanglah pada pagi hari agar kamu terhindar dari terik matahari saat menyusuri jalur menuju kompleks candi.
  • Selain itu, kenakan alas kaki yang nyaman karena medan menuju bangunan induk masih berupa tanah dan rerumputan.
  • Jangan lupa bawa air minum yang cukup, sebab fasilitas di sekitar situs masih terbatas.
  • Supaya lebih memahami sejarahnya, gunakan jasa pemandu lokal agar kamu memperoleh penjelasan mendalam tentang makna prasasti.
  • Terakhir, hormati kawasan cagar budaya dengan tidak menyentuh atau menaiki struktur candi secara sembarangan.

Sudahkah kamu merasakan sensasi berdiri di antara reruntuhan pusat pendidikan Buddha tertua di Nusantara? Yuk, bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang gemar menjelajah situs sejarah. Dengan begitu, semakin banyak orang mengenal kekayaan peradaban Muaro Jambi.

Baca juga:

FAQ

1. Di mana lokasi Candi Kedaton Jambi?

Candi Kedaton berada di Desa Dusun Baru, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Tepatnya, lokasi tersebut berjarak sekitar 1.500 meter di sebelah barat Candi Gedong II.

2. Berapa harga tiket masuk Candi Kedaton Jambi?

Harga tiket masuk kawasan Candi Muaro Jambi berkisar Rp9.000 per orang. Meski begitu, angka tersebut dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola.

3. Apa fungsi asli Candi Kedaton pada masa lampau?

Candi Kedaton kemungkinan besar berfungsi sebagai vihara atau asrama pendidikan Buddha. Di tempat tersebut, para bhiksu dan siswa tinggal, bermeditasi, dan mempelajari teologi, kedokteran, filsafat, serta seni.

4. Siapa Mpu Kusuma yang namanya tertulis pada prasasti Candi Kedaton?

Identitas Mpu Kusuma masih menjadi misteri karena data pendukung sangat terbatas. Namanya hanya tercatat pada prasasti makara, sehingga para peneliti menduga sosok tersebut berkaitan dengan aktivitas meditasi atau persembahan di kawasan candi.

5. Apakah Candi Kedaton Jambi sama dengan Candi Kedaton di Jawa Timur?

Tidak sama. Candi Kedaton Jambi merupakan candi Buddha berbahan bata merah di Muaro Jambi, sedangkan Candi Kedaton Probolinggo dan Trowulan merupakan candi Hindu berbahan batu andesit atau batur bata di Jawa Timur.

Referensi

  1. Agustiningsih, N. (2018). Candi Muaro Jambi: Kajian cerita rakyat, arkeologi, dan pariwisata. Istoria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah, 2(2). https://doi.org/10.33087/istoria.v2i2.40
  2. Griffiths, A. (2012). Inscriptions of Sumatra, II: Short epigraphs in Old Javanese. Wacana: Journal of the Humanities of Indonesia, 14(2), 197–214. https://doi.org/10.17510/wjhi.v14i2.61
  3. Suryani, I. (2018). Candi Kedaton Muara Jambi dan nilai karakter dalam pembelajaran sejarah: Sebuah identifikasi awal. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 6(2), 231–235. https://doi.org/10.24127/hj.v6i2.1352
  4. Pusat Data Dharma (EFEO/École française d’Extrême-Orient). (2012). Makara of Candi Kedaton (N. 186), 10/11th c. CE [Basis data epigrafi digital]. DHARMA Inscriptions of Southeast Asia. https://dharmalekha.info/texts/INSIDENK00186
Scroll to Top