Kerajaan Sekala Brak
Kerajaan Sekala Brak merupakan cikal bakal peradaban masyarakat Lampung. Dimana kerajaan tersebut berdiri di lereng Gunung Pesagi, dekat Danau Ranau, wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Lampung Barat. Kamu mungkin mengenal Lampung lewat gajah, Way Kambas, atau kain tapis. Namun jauh sebelum semua itu populer, sebuah kesatuan masyarakat adat sudah membangun sistem kepemimpinan yang bertahan lebih dari tiga belas abad. Alliya akan mengulas sejarah, asal-usul, geografi, struktur adat, hubungan dagang antarkerajaan, hingga eksistensi Sekala Brak pada masa sekarang. Kamu juga akan menemukan tabel ringkasan dan jawaban atas pertanyaan yang paling sering muncul seputar topik tersebut.
Apa Itu Kerajaan Sekala Brak?
Kerajaan Sekala Brak juga memakai sebutan Sekala Beghak, Skala Brak, atau Segara Brak. Nama tersebut menunjuk pada satu kesatuan masyarakat adat. Tradisi lisan dan historiografi lokal Lampung memandang kesatuan tersebut sebagai akar peradaban orang Lampung. Sejumlah tafsir meyakini nama Lampung berasal dari frasa “anjak lambung”, yang bermakna tempat tinggi. Frasa tersebut merujuk pada lereng Gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung.
Beberapa teori menjelaskan asal nama Sekala Brak dari sudut pandang berbeda:
- Sekala Bhra bermakna titisan dewa. Makna tersebut terkait dengan corak Hindu pada masa awal kerajaan.
- Segara Brak bermakna genangan air luas. Istilah tersebut merujuk pada Danau Ranau yang berada tidak jauh dari pusat kerajaan.
- Sekala Brak juga mengacu pada tumbuhan sekala. Peneliti menduga tumbuhan tersebut adalah Amomum Blumeanum Valeton, sejenis jahe-jahean yang tumbuh subur di dataran tinggi Pesagi.
- Sebagian sumber memaknai nama tersebut sebagai “tetesan yang mulia”.
Kamu perlu mencatat satu hal penting. Sebagian besar narasi mengenai asal-usul dan kronologi Sekala Brak bersumber dari tradisi lisan, tambo adat, dan warisan turun-temurun. Sumber tersebut bukan catatan sezaman yang sudah terverifikasi secara independen. Para peneliti karena itu membedakan tradisi hidup dalam masyarakat dari fakta sejarah yang sudah terkonfirmasi lewat kajian akademik.
Letak Geografis dan Konteks Wilayah Sekala Brak
Pusat kekuasaan Sekala Brak berada di dataran tinggi Belalau, tepat di sebelah selatan Danau Ranau. Danau vulkanik besar tersebut menjadi batas alami antara Provinsi Lampung dan Sumatra Selatan. Posisi geografis tersebut memberi keuntungan strategis. Kawasan Pesagi menyediakan sumber air melimpah, tanah subur untuk pertanian, serta jalur alami menuju pesisir barat Sumatra lewat aliran sungai atau way.
Masyarakat setempat mengenal wilayah tersebut lewat jaringan way, yaitu sungai-sungai yang menjadi urat nadi transportasi dan permukiman. Pola persebaran empat kepaksian mengikuti aliran way, dan pola tersebut bukan kebetulan. Leluhur Sekala Brak merancang strategi tata ruang adat tersebut untuk memudahkan distribusi kekuasaan sekaligus akses sumber daya alam bagi setiap kelompok masyarakat.
Masa Pra-Islam: Era Buay Tumi dan Suku Tumi
Sebelum sentuhan Islam datang, Suku Tumi menghuni wilayah Sekala Brak. Tambo menyebut kelompok tersebut sebagai penduduk asli yang tunduk pada seorang penguasa bercorak Hindu-animisme bernama Buay Tumi atau Ratu Sekerumong (Umpu Sekekhummong). Tradisi lisan memperkirakan peradaban Suku Tumi berkembang sejak abad ke-3 hingga abad ke-7 Masehi. Rentang waktu tersebut menjadikan Suku Tumi salah satu komunitas tertua yang tercatat dalam historiografi lokal Sumatra bagian selatan.
Musyawarah adat pada tahun 2001 justru mengangkat versi lain. Musyawarah tersebut menyebut sosok pendatang bernama La Laula sebagai pendiri peradaban awal. Perbedaan versi mengenai tokoh pendiri membuktikan satu hal. Narasi Sekala Brak terus mengalami reinterpretasi dalam tradisi adat kontemporer. Narasi tersebut tidak bersumber dari satu catatan tunggal yang konsisten sejak awal.
Suku Tumi memuja sebuah pohon sakral bernama Belasa Kepampang. Pohon tersebut memiliki dua cabang dengan sifat berlawanan. Cabang sebukau mengandung getah yang menyebabkan penyakit kulit, sedangkan cabang nangka mengandung getah yang justru menjadi obat penawar. Perpaduan dua unsur berlawanan dalam satu pohon membuat masyarakat Tumi mengeramatkan Belasa Kepampang selama berabad-abad. Filosofi dualisme tersebut kelak turut mewarnai cara pandang masyarakat Lampung terhadap keseimbangan hidup.
Pada tahun 535 Masehi, Gunung Krakatau purba meletus dahsyat. Letusan tersebut diduga memicu gangguan iklim regional dan turut membentuk Selat Sunda. Sejumlah tulisan populer mengaitkan peristiwa tersebut dengan kemunduran budaya di kawasan Pasemah. Namun hubungan langsungnya dengan Sekala Brak masih belum mendapat dukungan kajian arkeologis khusus. Peradaban di kawasan tersebut kemudian bangkit kembali sekitar tahun 600 Masehi. Kerajaan Tulang Bawang berdiri pada masa itu, dan sumber-sumber asing sudah mencatat keberadaan kerajaan tersebut.
Pengaruh Kerajaan-Kerajaan Besar Nusantara
Sejumlah sumber sekunder menafsirkan bahwa Sriwijaya memberi pengaruh besar pada wilayah Sekala Brak sejak abad ke-7 Masehi. Temuan beberapa prasasti Sriwijaya di Lampung mengindikasikan pengaruh tersebut. Memasuki abad ke-12, kawasan tersebut masuk pengaruh Singhasari lewat Ekspedisi Pamalayu. Pada abad ke-13, pengaruh Majapahit menyusul, dan sumber tradisional menyebut Adityawarman sebagai pemimpin yang berkuasa di Sumatra saat itu.
Kamu perlu memahami klaim tersebut secara kritis. Klaim mengenai hubungan politik langsung antara Sekala Brak dan kerajaan-kerajaan besar itu umumnya berasal dari historiografi lokal. Bukti epigrafis atau arkeologis yang secara eksplisit menyebut nama Sekala Brak belum tentu mendukung klaim tersebut.
Islamisasi dan Berdirinya Paksi Pak Sekala Brak
Empat pangeran dari Kerajaan Pagaruyung membawa titik balik besar bagi sejarah Sekala Brak. Kerajaan Islam yang berpusat di Batusangkar, Sumatra Barat, tersebut mengirim empat pangeran itu untuk menyebarkan ajaran Islam ke tanah Lampung. Sumber sekunder memberi rentang waktu yang beragam untuk peristiwa tersebut, mulai dari abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Sebagian tambo lain justru menyebut angka tahun 16 Masehi. Perbedaan rentang waktu yang cukup jauh antarversi menegaskan satu hal. Kronologi pasti peristiwa tersebut masih menjadi bahan diskusi para peneliti budaya hingga sekarang.
Ratu Sekerumong sempat mempertahankan kerajaan dan ajaran leluhurnya dengan sekuat tenaga. Namun perlawanan tersebut akhirnya tidak mampu membendung perubahan besar. Suku Tumi pun runtuh, dan era baru bergulir di bumi Lampung. Tradisi lisan menyebut peristiwa bersejarah tersebut sebagai gegakhah bulan bakha. Peristiwa tersebut menjadi tonggak lahirnya Paksi Pak Sekala Brak, yang secara harfiah bermakna “empat serangkai” atau “empat sepakat”.
Perubahan zaman membawa simbol baru. Masyarakat menebang pohon Belasa Kepampang yang dahulu disucikan Suku Tumi. Mereka lalu memakai kayu pohon tersebut untuk membuat singgasana adat bernama Pepadun. Benda pusaka tersebut masih tersimpan hingga kini dan menjadi rujukan tradisi Begawi Cakak Pepadun. Peneliti budaya kerap memaknai transformasi dari pohon keramat menjadi singgasana kekuasaan itu sebagai simbol pergeseran kosmologi, dari kepercayaan animisme menuju tatanan sosial-religius baru berbasis Islam.
Empat Kepaksian: Pernong, Belunguh, Nyerupa, dan Bejalan Di Way
Setelah pasukan Pagaruyung menaklukkan Ratu Sekerumong, mereka membagi wilayah Sekala Brak rata menjadi empat kepaksian. Keempat kepaksian tersebut berkedudukan setara. Setiap kepaksian memimpin wilayah, rakyat, dan adat-istiadatnya sendiri, namun tetap terikat dalam satu kesatuan paksi pak.
| Kepaksian | Gelar Pemimpin | Nama Pribadi (versi umum) | Peran Utama |
|---|---|---|---|
| Pernong | Umpu Pernong | Pak Lang | Menyebarkan ajaran Islam di wilayahnya; kini Pangeran Edward Syah Pernong memimpin kepaksian tersebut |
| Belunguh | Umpu Belunguh | Beluguh | Menjaga garis keturunan adat di wilayah aliran way tertentu |
| Nyerupa | Umpu Nyerupa | Sikin | Menata wilayah kultural dan pekon |
| Bejalan Di Way | Umpu Bejalan Di Way | Inder Gajah | Memimpin wilayah yang mengikuti pola aliran sungai |
Sumber-sumber sekunder tidak sepenuhnya sepakat soal korespondensi nama pribadi dan gelar keempat tokoh tersebut. Tabel di atas karena itu mencerminkan versi yang paling umum dikutip, bukan satu-satunya versi yang berlaku. Keempat umpu tersebut lalu menyebar mengikuti aliran way ke berbagai penjuru wilayah. Mereka sekaligus berperan besar dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah masing-masing.
Hubungan Dagang dan Relasi Antarkerajaan
Peradaban Sekala Brak berkembang pesat di bawah kendali empat kepaksian. Kemajuan tersebut tidak lepas dari jaringan perdagangan yang terjalin sejak berabad-abad silam. Sumber tradisional menyebutkan bahwa Sekala Brak pernah menjalin relasi dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Jaringan dagang tersebut bahkan menjangkau India dan Cina. Para pedagang setempat diduga menukarkan lada, hasil hutan, dan rempah-rempah sebagai komoditas utama. Komoditas tersebut memperkuat posisi tawar Sekala Brak dalam jalur perdagangan maritim Sumatra bagian selatan.
Jaringan dagang tersebut juga menjelaskan satu fenomena penting. Pengaruh budaya luar, mulai dari Hindu, Sriwijaya, hingga Islam, bisa masuk dan berakulturasi secara bertahap ke dalam struktur sosial masyarakat Sekala Brak. Proses akulturasi tersebut berlangsung tanpa menghilangkan identitas lokal masyarakat setempat.
Bukti Peninggalan dan Jejak Arkeologis
Kamu bisa menemukan jejak fisik Sekala Brak lewat sejumlah peninggalan yang tersebar di Lampung Barat. Peninggalan tersebut mencakup menhir zaman Megalitikum, batu-batu kuno, tapak bekas kaki, altar, hingga lokasi eksekusi di lereng Gunung Pesagi.
Prasasti Hujung Langit menjadi bukti arkeologis independen tertua yang berkaitan dengan kawasan tersebut. Prasasti itu memuat tarikh 9 Margasira 919 Saka, setara tahun 997 Masehi. Warga menemukan prasasti tersebut di Dusun Harakuning, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Lampung Barat. Epigraf Louis-Charles Damais membaca prasasti tersebut sebagai produk era Sriwijaya. Menurut pembacaannya, penguasa bergelar Punku Haji Yuwarajya Sri Haridewa mengeluarkan prasasti itu untuk menetapkan status sima atau bebas pajak atas sebidang tanah. Tanah tersebut berfungsi untuk pemeliharaan bangunan suci.
Fakta menarik perlu kamu pahami di sini. Para peneliti belum menemukan hubungan pasti antara prasasti tersebut dan narasi “Buay Tumi” dalam tambo. Kajian arkeologis lanjutan karena itu masih diperlukan untuk mengonfirmasi kaitan keduanya secara ilmiah.
Selain prasasti, istana adat Sekala Brak juga menjadi bukti fisik kejayaan masa lalu. Masyarakat menyebut istana tersebut Lamban Gedung atau Gedung Dalom. Dalam bahasa daerah, lamban berarti rumah, sedangkan rumah khusus raja memakai sebutan Lamban Gedung atau Gedung Dalom. Bangunan tersebut berbentuk panggung dua lantai. Pengunjung akan melewati beranda sebelum memasuki ruang utama. Ruang besar di dalamnya berfungsi untuk sidang atau musyawarah adat, lengkap dengan singgasana raja. Di belakang singgasana, sebuah ruang istirahat menampung raja dan keluarga yang mendapat izin masuk.
Daftar Leluhur Menurut Tambo Kerajaan Tulang Bawang
Historiografi lokal juga mencatat deretan nama tokoh yang hidup pada masa terkait Kerajaan Tulang Bawang. Kerajaan tersebut berada di sepanjang aliran Sungai Way Tulang Bawang beserta dua anak sungainya, Way Kiri dan Way Kanan. Catatan sezaman independen belum memverifikasi sebagian nama dalam daftar berikut, sehingga statusnya tetap berada dalam ranah tradisi lisan:
Runjung Gelar Minak Tabu Gayaw, Senamo, Tuan Rio Mangkubumi, Tuan Rio Tengah, Tuan Rio Sanak, Minak Pati Pejurit, Minak Sang Menteri, Minak Sang Putri, Minak Indah, Minak Makdum, Minak Raja Ratu, Minak Raja Malaka, Minak Sengaji, Minak Ngegulung, Minak Jagad, Minak Dewa Pengantin, Minak Ratu Guruh Malay, Minak Ratu Junjungan, Minak Merettah Dibumi, Minak Kemala Adam, Minak Sendang Belawan, Minak Kemala Kota, Minak Cekai Dilangit, Minak Rio Kuaso, Minak Temenggung, dan Minak Kerenggo.
Peneliti belum berhasil menyusun silsilah lengkap yang mencakup seluruh pemimpin keempat kepaksian sepanjang sejarah. Daftar tersebut karena itu lebih tepat menjadi catatan parsial ketimbang silsilah final.
Masa Kolonial hingga Kemerdekaan
Kedatangan VOC dan pemerintahan Hindia Belanda membawa perubahan besar bagi struktur politik Sekala Brak. Catatan sekunder menyebutkan bahwa pasukan Belanda merusak istana lama Sekala Brak pada 1810 dan 1820. Masyarakat setempat lalu membangun kembali istana tersebut sebagai Gedung Dalom pada 1830.
Pemerintah kolonial menerapkan strategi divide et impera. Mereka memecah wilayah adat menjadi unit-unit marga, dan kebijakan tersebut turut mengubah struktur sosial-politik keempat kepaksian, termasuk Kepaksian Pernong. Raden Intan menjadi salah satu tokoh penting pada periode tersebut. Ia menyandang gelar Pangeran Jaya Kesuma I, dan pemerintah kolonial mengangkatnya sebagai pasirah pada 21 Desember 1834. Sejarah perjuangan Lampung melawan kolonialisme kelak mengenal luas sosok Raden Intan. Pemerintah bahkan mengabadikan namanya sebagai nama bandara serta berbagai fasilitas publik di provinsi tersebut.
Republik Indonesia berdiri pada 1945, dan peristiwa tersebut mengubah nasib Kepaksian Sekala Brak. Kepaksian tersebut kehilangan status kedaulatan dan kewenangan pemerintahan formal, sama seperti ratusan zelfbesturende landschappen atau daerah swapraja lain di Nusantara. Kewenangan politik memang lenyap, namun struktur adat dan garis keturunan kepemimpinan tetap bertahan secara kultural hingga sekarang.
Kepaksian Sekala Brak di Era Modern
Keempat kepaksian tetap eksis sebagai lembaga adat dengan garis keturunan dan wilayah kultural masing-masing. Pangeran Edward Syah Pernong misalnya, memimpin Kepaksian Pernong saat ini. Ia menyandang gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 sejak pelantikannya pada 1989. Sosok tersebut juga menjabat purnawirawan perwira tinggi Polri berpangkat Brigadir Jenderal, dan pernah memimpin Kepolisian Daerah Lampung.
Sebagai pemimpin adat, Pangeran Edward Syah Pernong beberapa kali hadir dalam forum nasional yang mempertemukan para raja dan sultan Nusantara. Ia bahkan menghadiri audiensi dengan Presiden Joko Widodo pada 2018 untuk menyuarakan keprihatinan atas keterlibatan lembaga adat dalam kebijakan pembangunan daerah. Kepaksian Pernong juga aktif memberikan gelar adat kehormatan kepada tokoh nasional. Pada 2023, misalnya, kepaksian tersebut menganugerahkan gelar kepada mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD.
Peran lembaga adat semacam itu menunjukkan satu hal penting. Sekala Brak bukan sekadar warisan sejarah yang beku. Institusi budaya tersebut tetap aktif berdialog dengan dinamika politik dan sosial Indonesia kontemporer.
Nilai Adat dan Tradisi yang Masih Lestari
Keempat kepaksian menjalankan struktur adat internal yang mencakup jajaran raja kampung (batin), dewan adat, raja jukuan, dan kelompok suku sumbai. Setiap jajaran memiliki alat kebesaran adat masing-masing. Musyawarah adat atau hippun adat menjadi mekanisme utama pengambilan keputusan. Forum tersebut mempertemukan perwakilan raja dan suku dari berbagai pekon atau desa adat.
Sistem empat kepaksian tersebut juga menjadi rujukan tradisi Begawi Cakak Pepadun. Perhelatan adat tersebut memberikan gelar (juluk adok) kepada seseorang, dan pemberian gelar itu mensyaratkan kesepakatan keempat kepaksian. Masyarakat Lampung kontemporer terus memegang beberapa nilai luhur berikut:
- Piil Pesenggiri, harga diri dan martabat sebagai pedoman hidup.
- Nemui Nyimah, sikap ramah tamah dan terbuka terhadap tamu.
- Sakai Sambayan, semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
- Bejuluk Beadek, penghormatan identitas seseorang lewat pemberian gelar adat.
Masyarakat Lampung juga mengenal hierarki adat yang berjenjang, mulai dari gelar tertinggi hingga terendah: Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kemas, dan Mas. Bahasa adat menyebut sistem gelar tersebut petutughan, dan sistem itu berlaku hingga sekarang. Seseorang tidak bisa membeli gelar tersebut. Ia hanya berhak menyandang gelar tertentu apabila memiliki garis keturunan langsung dari leluhur pemegang gelar itu.
Festival Adat Sekala Brak sebagai Wajah Pariwisata Lampung Barat
Lampung Barat menggelar Festival Adat Sekala Brak secara rutin setiap tahun sejak 1990. Festival tersebut menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus promosi potensi pariwisata daerah. Karnaval budaya, atraksi seni tradisional, pameran kerajinan, dan berbagai lomba biasanya meramaikan perhelatan tersebut. Panitia selalu melibatkan keturunan keempat kepaksian dalam setiap upacara adat yang berlangsung.
Pemerintah Daerah Lampung tidak pernah absen menyelenggarakan festival tersebut. Mereka ingin menjaga agar generasi muda tidak kehilangan jejak identitas budayanya. Kamu yang berencana berkunjung ke Lampung Barat bisa memanfaatkan momen festival tersebut sebagai kesempatan langka. Kamu bisa menyaksikan langsung ritual adat yang biasanya hanya muncul lewat buku sejarah atau tambo lisan.
Kalau kamu tertarik menelusuri lebih jauh warisan budaya Nusantara seperti Sekala Brak, jangan simpan sendiri. Bagikan artikel tersebut ke teman atau keluarga yang penasaran dengan sejarah Lampung.
Sekala Brak bukan sekadar cerita masa lalu yang membeku di buku sejarah. Warisan tersebut adalah denyut nadi budaya Lampung yang terus berdetak lewat garis keturunan, tradisi, dan kebanggaan masyarakatnya hingga hari ini.
Baca juga:
- Suku Kerinci: Asal-Usul, Sejarah, Bahasa, dan Adat Istiadat
- Suku Jambi: Asal-Usul, Ragam Kelompok, dan Warisan Budaya yang Hidup Hingga Kini
- Candi Astano: Sejarah, Lokasi, dan Keunikannya di Muaro Jambi
- Legenda Nyi Roro Kidul: Siapa Dia dan Bagaimana Kisahnya?
- Asal-usul Nama Lampung: 3 Versi Sejarah dan Faktanya
FAQ
1. Apa itu Kerajaan Sekala Brak?
Kerajaan Sekala Brak adalah kesatuan masyarakat adat tertua di Lampung. Kerajaan tersebut berdiri di lereng Gunung Pesagi, dekat Danau Ranau, dan masyarakat memandangnya sebagai cikal bakal peradaban Lampung.
2. Di mana lokasi Kerajaan Sekala Brak berada?
Lokasinya berada di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau. Wilayah tersebut sekarang masuk Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.
3. Siapa saja empat kepaksian dalam Sekala Brak?
Empat kepaksian tersebut adalah Pernong, Belunguh, Nyerupa, dan Bejalan Di Way. Seorang umpu memimpin setiap kepaksian, lengkap dengan wilayah dan garis keturunan sendiri.
4. Apakah Kerajaan Sekala Brak masih ada sampai sekarang?
Keempat kepaksian tetap eksis sebagai lembaga adat dan penjaga tradisi budaya Lampung. Mereka memang kehilangan kewenangan pemerintahan formal sejak kemerdekaan Indonesia pada 1945.
5. Apa bukti sejarah tertua yang berkaitan dengan Sekala Brak?
Prasasti Hujung Langit menjadi bukti arkeologis independen tertua yang berkaitan dengan kawasan tersebut. Prasasti itu bertarikh 997 Masehi, dan epigraf meyakini prasasti tersebut berasal dari era Sriwijaya.
6. Siapa yang memimpin Kepaksian Pernong saat ini?
Pangeran Edward Syah Pernong memimpin Kepaksian Pernong saat ini. Ia menyandang gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 sejak pelantikannya pada 1989.
7. Apa itu Begawi Cakak Pepadun dalam tradisi Sekala Brak?
Begawi Cakak Pepadun adalah perhelatan adat pemberian gelar (juluk adok) dalam masyarakat Lampung Pepadun. Perhelatan tersebut mensyaratkan kesepakatan di antara keempat kepaksian Sekala Brak.
8. Kapan Festival Adat Sekala Brak biasanya diselenggarakan?
Lampung Barat menggelar Festival Adat Sekala Brak secara rutin setiap tahun sejak 1990. Festival tersebut menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata daerah.
Referensi
- Daud, S. (2015). The history of the Paksi Pak Sekala Brak Sultanate (R. M. Siagian, Trans.). Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. Yale University Library Catalog
- Ruslan, I., & Irham, M. A. (2022). The role of cultural literacy and peace education in harmonization of religious communities. Journal of Social Studies Education Research, 13(3), 174–204. https://jsser.org/index.php/jsser/article/view/4335
- Cathrin, S., Wikandaru, R., Indah, A. V., & Bursan, R. (2021). Nilai-nilai filosofis tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung. Patrawidya: Jurnal Sejarah dan Budaya. https://patrawidya.kemenbud.go.id/index.php/patrawidya/article/view/321
- Damais, L.-C. (1995). Études d’épigraphie indonésienne. École française d’Extrême-Orient. (Dikutip dalam: Khasanah Budaya Nusantara IX). https://www.persee.fr/doc/befeo_0336-1519_1952_num_46_1_5158
Alliya Putri Pasla, seorang penulis yang berpengalaman pada bidang wisata kuliner, cerita rakyat, destinasi wisata, dan warisan budaya. Menyajikan konten yang informatif, edukatif, dan menarik untuk menjelajahi budaya serta tradisi Nusantara.



