Candi Astano
Candi Astano menyimpan kisah panjang tentang peradaban Hindu-Buddha yang pernah berkembang di tepi Sungai Batanghari. Situs bersejarah tersebut berdiri di Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi, salah satu kompleks percandian terluas di Asia Tenggara. Bagi kamu yang menyukai wisata sejarah sekaligus suasana alam yang tenang, candi tersebut layak masuk daftar kunjungan berikutnya.
Alliya akan mengulas asal-usul nama, lokasi, arsitektur, temuan artefak, hingga pengalaman langsung menyusuri kawasan candi. Semua informasi tersusun agar kamu mendapat gambaran lengkap sebelum berkunjung.
Asal-Usul Nama Astano
Nama “Astano” bukan sekadar label, melainkan cerminan fungsi bangunan pada masa lalu. Masyarakat setempat meyakini beberapa makam di area candi merupakan tempat peristirahatan raja-raja atau tokoh penting zaman dahulu. Keyakinan itu melahirkan makna kata “Astano”, yaitu “makam raja”.
Peneliti Belanda bernama Schnitger pertama kali mencatat situs tersebut pada tahun 1936. Sayangnya, penolakan masyarakat setempat menghentikan upaya penggalian makam di sekitar bangunan, mengingat mereka masih menjaga kesakralan tempat tersebut hingga kini. Kondisi itu menyisakan sebagian misteri arkeologis Astano yang belum sepenuhnya terungkap.
Lokasi dan Akses Menuju Candi
Candi Astano berdiri sekitar 1.250 meter ke arah timur laut dari Candi Tinggi, dan menempati posisi kurang lebih 350 meter ke utara dari tepi Sungai Batanghari. Jalan setapak menuju lokasi sudah memakai lapisan semen, sehingga kamu bisa menyusurinya dengan berjalan kaki maupun bersepeda. Karena jarak antar candi di kompleks Muaro Jambi berkisar 1 hingga 2 kilometer, menyewa sepeda menjadi pilihan yang lebih praktis dan hemat tenaga.
Pada masa lampau, setiap candi di kompleks tersebut berdiri di atas gugusan “pulau” yang parit buatan mengelilinginya, sehingga masyarakat mengandalkan perahu sebagai moda transportasi utama antar bangunan. Parit tersebut kini sudah mengering, namun jejak jembatan lama masih menghiasi beberapa titik di sekitar candi.
Keunikan Arsitektur Candi Astano
Denah bangunan utama Candi Astano membentuk pola persegi dua belas, sebuah bentuk yang jarang muncul pada candi lain di Nusantara. Struktur candi menempati lahan berukuran 48 x 50 meter, dengan permukaan tanah 1,70 meter lebih tinggi dibanding area sekitarnya. Sebuah parit keliling selebar lima meter dan sedalam tiga meter mengelilingi lahan candi, menegaskan fungsi pertahanan sekaligus simbolis kawasan tersebut.
Para arkeolog memperkirakan proses pembangunan berlangsung dalam tiga tahap. Bangunan pertama menempati posisi tengah, berukuran 6 x 13 meter dengan tinggi 3,5 meter, dan kemungkinan menjadi inti kompleks yang masyarakat gunakan untuk upacara keagamaan penting. Bangunan kedua dan ketiga kemudian mengapit sisi timur dan barat sebagai hasil perluasan berikutnya.
Tabel berikut merangkum data teknis setiap bagian bangunan agar kamu lebih mudah membandingkan ukurannya.
| Bagian Bangunan | Posisi | Ukuran | Tinggi | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Bangunan utama (tertua) | Tengah | 6 x 13 meter | 3,5 meter | Diduga pusat upacara keagamaan |
| Bangunan perluasan timur | Timur | 2,9 x 3,65 meter | 3 meter | Hasil pengembangan tahap kedua |
| Bangunan perluasan barat | Barat | 8,75 x 7,85 meter | 3 meter | Hasil pengembangan tahap ketiga |
| Parit keliling | Mengelilingi lahan | Lebar 5 meter | Dalam 3 meter | Berfungsi sebagai batas sekaligus pertahanan |
Menariknya, bangunan candi tidak menampilkan relief maupun lekukan tempat arca, dan pengunjung sama sekali tidak menemukan sisa struktur tangga. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa masyarakat dahulu memakai tangga kayu untuk naik ke bangunan, namun material tersebut telah lapuk termakan usia.
Temuan Artefak Bersejarah
Proses pembersihan lingkungan candi berhasil mengungkap sejumlah artefak yang memperkaya pemahaman tentang kehidupan masyarakat masa lalu.
1. Padmasana Batu
Tim penggalian menemukan dua padmasana batu di sekitar bangunan. Padmasana berfungsi sebagai singgasana batu untuk persembahan kepada dewa, sekaligus penanda kuatnya unsur keagamaan pada masa itu.
2. Arca Batu
Peneliti menemukan sebanyak 14 potongan arca batu di lokasi tersebut. Arca-arca itu menggambarkan kepercayaan dan kehidupan spiritual masyarakat yang pernah mendiami kawasan Muaro Jambi.
3. Pipisan dan Lesung Batu
Pipisan batu dan lesung batu mengungkap sisi keseharian masyarakat, khususnya aktivitas dapur dan pengolahan bahan pangan.
4. Manik-Manik dan Keramik
Petugas pembersihan juga menemukan manik-manik serta pecahan keramik lokal maupun asing di area candi. Sebagian besar keramik berasal dari masa Dinasti Song dan Yuan pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi, sehingga temuan tersebut menunjukkan adanya jalur perdagangan dan pertukaran budaya lintas wilayah pada masa itu.
5. Artefak Lainnya
Selain benda-benda di atas, tim penggalian juga menemukan mata uang emas bertuliskan aksara kuno, pecahan tembikar, dan fragmen besi. Setiap artefak menambah lapisan bukti tentang peradaban yang pernah hidup di kawasan tersebut.
Candi Perwara di Halaman Astano
Dua candi perwara berdiri di halaman Candi Astano. Candi perwara berukuran lebih kecil dan biasanya mendampingi candi utama dalam pelaksanaan upacara keagamaan. Keberadaan keduanya melengkapi gambaran kompleks percandian sebagai pusat spiritual yang terencana dengan matang.
Pengalaman Menyusuri Kawasan Candi
Suasana di sekitar Candi Astano memberi kesan berbeda dibanding candi lain di kompleks Muaro Jambi. Hamparan bunga kuning kecil tumbuh di sepanjang jalan setapak menuju gerbang masuk, menciptakan pemandangan yang menenangkan sekaligus estetik untuk berfoto. Kamu tidak akan menjumpai reruntuhan bangunan lain di sekitarnya, sehingga fokus pandangan langsung tertuju pada struktur candi yang berdiri kokoh di tengah bekas pulau buatan.
Bagi kamu yang berencana datang, sebaiknya siapkan waktu lebih untuk menikmati suasana, bukan sekadar mengambil foto lalu berlalu. Duduk sejenak di dekat hamparan bunga sambil memandangi candi memberi pengalaman yang sulit kamu dapatkan di tempat wisata sejarah pada umumnya.
Mengapa Candi Astano Penting untuk Dilestarikan?
Candi Astano bukan sekadar tumpukan batu bata kuno, melainkan bukti nyata perjalanan peradaban Hindu-Buddha di Sumatra. Setiap artefak, struktur bangunan, hingga makna nama menyimpan informasi berharga tentang cara hidup, kepercayaan, dan hubungan dagang masyarakat masa lampau. Pelestarian situs tersebut menjadi tanggung jawab bersama, agar generasi mendatang tetap bisa mempelajari warisan budaya bangsa secara langsung, bukan hanya lewat catatan sejarah.
Kalau kamu merasa artikel bermanfaat, jangan ragu membagikannya ke teman atau komunitas pencinta sejarah, agar semakin banyak orang mengenal kekayaan budaya Muaro Jambi.
Baca juga:
- Kolam Telago Rajo: Sejarah, Fungsi, dan Lokasi di Muaro Jambi
- Sejarah Candi Kembar Batu: Jejak Peradaban Buddha Tertua di Sumatra
- Candi Kedaton Jambi: Jejak Peradaban Sriwijaya di Kompleks Muaro Jambi
- Sejarah Candi Kotomahligai: Jejak Peradaban Buddha di Jantung Jambi
FAQ
1. Apa arti nama Candi Astano?
Nama Astano berarti “makam raja”, merujuk pada beberapa makam di sekitar candi yang masyarakat setempat percaya sebagai tempat peristirahatan raja atau tokoh penting.
2. Di mana lokasi Candi Astano?
Candi berdiri di Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi, sekitar 1.250 meter timur laut dari Candi Tinggi dan 350 meter utara dari tepi Sungai Batanghari.
3. Kapan Candi Astano pertama kali ditemukan?
Peneliti Schnitger pertama kali mengidentifikasi situs tersebut pada tahun 1936, meski penolakan masyarakat setempat menggagalkan penggalian makam di sekitarnya.
4. Artefak apa saja yang ditemukan di Candi Astano?
Tim penggalian menemukan dua padmasana batu, 14 potongan arca batu, pipisan dan lesung batu, manik-manik, keramik dari masa Dinasti Song dan Yuan, mata uang emas, pecahan tembikar, dan fragmen besi.
5. Apa bentuk unik dari bangunan Candi Astano?
Bangunan utama membentuk pola persegi dua belas dan berdiri dalam tiga tahap pembangunan, tanpa relief, lekukan tempat arca, maupun struktur tangga, sehingga arkeolog hingga kini belum bisa memastikan arah hadap bangunan.
Referensi
- Agustiningsih, N., & Pamungkas, S. (2018). Candi Muaro Jambi: Kajian cerita rakyat, arkeologi, dan pariwisata. Istoria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah Universitas Batanghari, 2(2). http://dx.doi.org/10.33087/istoria.v2i2.40
- Al Fajri, A. F., Bella, P. A., Tjung, L. J., & Pribadi, I. G. O. S. (2023). Pengelolaan sarana dan prasarana kawasan wisata Candi Muaro Jambi. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), 5(2). https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24346
- Meilania, M., & Febrianti, H. (2019). Pelestarian Candi Muaro Jambi sebagai benda cagar budaya dan pariwisata di Provinsi Jambi. Journal V-Tech (Vision Technology), 2(1), 99–109. https://doi.org/10.35141/jvt.v2i1.509
- Syahputra, M. A. D., Sariyatun, & Ardianto, D. T. (2020). Pemanfaatan situs purbakala Candi Muaro Jambi sebagai objek pembelajaran sejarah lokal di era digital. Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia (JPSI), 3(1), 84. https://www.researchgate.net/publication/343631550
- Selamat. (2023). Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi Kabupaten Muaro Jambi tahun 2013–2022 [Skripsi, Universitas Jambi]. Repository Unja. https://repository.unja.ac.id/58366/
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Mendikbudristek tinjau pengembangan pemanfaatan kebudayaan di Kompleks Candi Muaro Jambi. Kemdikbud. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/09/mendikbudristek-tinjau-pengembangan-pemanfaatan-kebudayaan-di-kompleks-candi-muaro-jambi
Alliya Putri Pasla, seorang penulis yang berpengalaman pada bidang wisata kuliner, cerita rakyat, destinasi wisata, dan warisan budaya. Menyajikan konten yang informatif, edukatif, dan menarik untuk menjelajahi budaya serta tradisi Nusantara.



