Sejarah Candi Kembar Batu Muaro Jambi
Sejarah Candi Kembar Batu menyimpan kisah panjang tentang pusat pendidikan Buddhisme terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, candi tersebut berdiri di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Oleh karena itu, kamu akan menemukan banyak fakta menarik seputar asal-usul, arsitektur, dan temuan arkeologis di kawasan tersebut. Alliya mengajak kamu menelusuri jejak sejarah, struktur bangunan, serta makna spiritual Candi Kembar Batu secara mendalam.
Apa Itu Candi Kembar Batu?
Candi Kembar Batu merupakan kompleks percandian bercorak Buddha. Selanjutnya, bangunan tersebut menjadi bagian dari Kompleks Percandian Muaro Jambi. Secara khusus, lokasinya berada sekitar 250 meter di sebelah tenggara Candi Tinggi dan Candi Gumpung. Sementara itu, secara geografis, kompleks tersebut menempati koordinat 01°28’39,7″ LS dan 103°40’15,2″ BT.
Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Candi Kembar Batu sebagai bangunan cagar budaya nasional dengan nomor registrasi CB.125. Lebih lanjut, penetapan tersebut mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nomor 045/M/2000 tertanggal 30 Maret 2000. Dengan demikian, status tersebut menegaskan bahwa candi memiliki nilai sejarah, arkeologis, dan edukatif yang layak dilestarikan.
Sejarah Candi Kembar Batu
1. Awal Penemuan Kompleks Muaro Jambi
Pada mulanya, seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke melaporkan Kompleks Percandian Muaro Jambi pada tahun 1824. Namun demikian, kajian serius terhadap kawasan tersebut baru dimulai pada 1975. Pada masa itu, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan bahwa peninggalan di kawasan tersebut berasal dari abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi.
Selanjutnya, para arkeolog meyakini bahwa kompleks percandian tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya atau Kerajaan Melayu. Dengan luas mencapai 3.981 hektare, Candi Muaro Jambi menjadi situs percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara. Selain itu, kawasan tersebut juga tercatat sebagai situs candi terbesar dan terawat baik di Pulau Sumatra. Oleh sebab itu, sejak tahun 2009, pemerintah telah mengusulkan kompleks tersebut ke UNESCO sebagai calon Situs Warisan Dunia.
2. Proses Pemugaran Candi Kembar Batu
Pada periode 1994-1995, tim arkeolog memugar Candi Kembar Batu. Melalui proses tersebut, tim mengungkap struktur lengkap kompleks. Secara rinci, struktur itu terdiri atas candi induk, tujuh candi perwara, dua bangunan yang belum diketahui fungsinya, pagar keliling, gapura, dan parit keliling. Akan tetapi, tim baru berhasil merestorasi lima dari tujuh candi perwara. Sementara itu, dua perwara lainnya masih menunggu proses pemugaran lanjutan.
Adapun nama “Kembar Batu” merujuk pada pola susunan candi perwara yang saling berhadapan. Dengan kata lain, susunan tersebut mengelilingi candi induk secara simetris sehingga membentuk formasi menyerupai kembaran struktur bata kuno.
Struktur dan Arsitektur Kompleks Candi Kembar Batu
Secara umum, kompleks Candi Kembar Batu memiliki denah berbentuk persegi panjang. Menurut catatan arkeologis, ukuran lahannya berkisar antara 59 x 63 meter hingga 50 x 64 meter. Selain itu, seluruh komponen bangunan menggunakan material bata merah khas arsitektur candi periode Sriwijaya-Melayu.
Berikut rincian ukuran setiap bangunan dalam kompleks tersebut:
| Bangunan | Ukuran (meter) | Arah Hadap |
|---|---|---|
| Candi Induk | 11,39 x 11,33 x 2,82 | Timur |
| Perwara I | 11,60 x 11 x 1,86 | Timur-Barat |
| Perwara II | 3,75 x 3,45 x 1,30 | Timur |
| Perwara III | 8,09 x 5,79 x 1,46 | Utara |
| Perwara IV | 12,32 x 12,17 x 0,65 | Utara |
| Perwara V | 5,10 x 5,07 x 0,92 | Timur |
Selanjutnya, tiga candi perwara berdiri saling sejajar dan mengelilingi candi induk. Dengan susunan tersebut, formasi bangunan melambangkan konsep gunung suci atau padmasana dalam kosmologi Buddha. Dengan kata lain, tata letak bangunan menggambarkan posisi dewa yang disembah. Oleh karena itu, setiap sudut kompleks menyimpan makna simbolis yang kuat bagi umat Buddha pada masa lampau.
Temuan Arkeologis Penting di Candi Kembar Batu
Selama proses penggalian, para arkeolog menemukan berbagai artefak berharga di sekitar kompleks Candi Kembar Batu. Di antaranya, artefak tersebut meliputi gong perunggu, lempengan emas, batu mulia, bata berukir huruf Jawa Kuno, dan keramik asal Tiongkok. Di antara temuan tersebut, gong perunggu menjadi yang paling signifikan. Pasalnya, gong itu memuat inskripsi berhuruf China dengan angka tahun 1231.
Lebih jauh lagi, inskripsi pada gong tersebut mengindikasikan hubungan bilateral antara kerajaan lokal dengan Dinasti Sung di Tiongkok. Oleh karena itu, fakta tersebut memperkuat teori bahwa kompleks Muaro Jambi berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus pendidikan Buddha. Adapun fungsi tersebut berlangsung dalam rentang waktu panjang, yakni sejak awal abad ke-7 hingga abad ke-15. Bahkan, umat Buddha dari berbagai wilayah Nusantara maupun mancanegara datang untuk belajar dan beribadah di kawasan tersebut.
Lokasi dan Akses Menuju Candi Kembar Batu
Secara administratif, Candi Kembar Batu berada di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Untuk menuju ke sana, kamu dapat mencapai lokasi tersebut melalui Desa Muaro Sebo. Namun demikian, kamu perlu menggunakan kendaraan roda dua seperti sepeda, sebab jalur menuju kompleks candi belum sepenuhnya ramah kendaraan roda empat.
Di sekitar situs, kawasan candi menyuguhkan ekosistem alami yang masih terjaga. Sebagai contoh, rerumputan, semak, dan pohon karet tumbuh subur di sekeliling situs. Selain itu, pohon bungur dan pohon unglen turut menciptakan suasana teduh di sekitar candi. Bersamaan dengan itu, warga setempat juga memanfaatkan lingkungan tersebut untuk kegiatan ekonomi. Dengan demikian, keberadaan candi memberi manfaat ganda bagi pelestarian budaya sekaligus penghidupan masyarakat.
Makna Candi Kembar Batu bagi Peradaban Buddha Nusantara
Menurut para ahli sejarah, Kompleks Percandian Muaro Jambi menjadi pusat pendidikan Buddhisme tertua dan terluas di Asia Tenggara pada masanya. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah merancang revitalisasi kawasan tersebut. Sebagai bagian dari rencana tersebut, pembangunan Kampus Merdeka akan berdiri di atas lahan seluas 30 hektare.
Sehubungan dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti, menekankan pentingnya optimalisasi program Merdeka Belajar melalui revitalisasi tersebut. Selanjutnya, tim perancang mendesain kampus itu berbentuk rumah panggung kayu. Melalui desain tersebut, pemerintah berharap dapat menghidupkan kembali semangat pendidikan yang telah tumbuh sejak abad ke-8. Pada akhirnya, kawasan Muaro Jambi diproyeksikan menjadi pusat riset, museum, galeri, laboratorium, dan ruang pembelajaran bertaraf internasional.
Ketika berkunjung langsung, kamu bisa merasakan sendiri atmosfer spiritual dan edukatif di kompleks candi. Pada pagi hari, misalnya, suasana hening menyelimuti reruntuhan bata kuno. Selain itu, aroma tanah basah dan siluet candi induk yang menjulang di antara pepohonan menghadirkan pengalaman autentik. Dengan kata lain, pengalaman itu sulit tergantikan oleh sekadar membaca literatur.
Pada dasarnya, sejarah Candi Kembar Batu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan warisan hidup yang membutuhkan perhatian bersama. Oleh karena itu, kamu dapat berkontribusi dengan cara sederhana. Sebagai contoh, kamu bisa mengunjungi situs secara langsung, mendukung program pelestarian cagar budaya, atau membagikan artikel tersebut kepada teman dan keluarga. Dengan begitu, semakin banyak orang akan mengenal kekayaan sejarah Nusantara. Maka dari itu, yuk bagikan artikel tersebut sekarang dan ajak orang terdekatmu turut menjaga jejak peradaban Buddha di Bumi Jambi.
Pada akhirnya, Candi Kembar Batu berdiri sebagai saksi bisu bahwa kejayaan intelektual dan spiritual Nusantara pernah bersinar terang, jauh sebelum dunia modern mengenal pendidikan tinggi.
Baca juga:
- Candi Kedaton Jambi: Jejak Peradaban Sriwijaya di Kompleks Muaro Jambi
- Sejarah Candi Kotomahligai: Jejak Peradaban Buddha di Jantung Jambi
- Masjid Agung Al-Falah, Ikon Masjid Seribu Tiang di Jantung Kota Jambi
- Candi Solok Sipin: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Tepi Sungai Batanghari
FAQ
1. Kapan Candi Kembar Batu dipugar?
Pada periode 1994-1995, tim arkeolog memugar Candi Kembar Batu. Selanjutnya, mereka berhasil merestorasi lima dari tujuh candi perwara di kompleks tersebut.
2. Berasal dari abad berapa Candi Kembar Batu?
Menurut para ahli epigrafi, Candi Kembar Batu berasal dari abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi. Perkiraan tersebut sejalan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya atau Kerajaan Melayu.
3. Di mana lokasi Candi Kembar Batu?
Secara administratif, Candi Kembar Batu terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Selain itu, lokasinya berada sekitar 250 meter di sebelah tenggara Candi Tinggi dan Candi Gumpung.
4. Apa fungsi Candi Kembar Batu pada masa lampau?
Pada masa lampau, Candi Kembar Batu berfungsi sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama Buddha. Bahkan, umat dari Nusantara maupun mancanegara menggunakannya sejak abad ke-7 hingga abad ke-15.
5. Apa temuan arkeologis terpenting di Candi Kembar Batu?
Di antara berbagai temuan, gong perunggu berinskripsi huruf China bertahun 1231 menjadi yang terpenting. Sebab, temuan tersebut membuktikan adanya hubungan bilateral antara kerajaan lokal dengan Dinasti Sung di Tiongkok.
Referensi
- Agustiningsih, N. (2018). Candi Muaro Jambi: Kajian cerita rakyat, arkeologi, dan pariwisata. Istoria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah Universitas Batanghari, 2(2), 49–62. https://doi.org/10.33087/istoria.v2i2.40
- CNN Indonesia. (2024, 12 Januari). Kemendikbud bakal revitalisasi cagar budaya Muaro Jambi. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20240111231603-20-1048398/kemendikbud-bakal-revitalisasi-cagar-budaya-muaro-jambi
- Larasati, F. (2019). Nilai budaya bangunan dan ragam hias Candi Kembar Batu Muara Jambi sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA Azharyah Palembang. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 5(1), 62–70. https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Kalpa/article/view/1614/1416
- Pratiwi. (2020). Konsep kosmologi Candi Kembar Batu di Muara Jambi. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 3(2), 64–70. https://doi.org/10.31851/kalpataru.v3i2.1625
- Rati. (2019). Nilai keagamaan Candi Kembar Batu Muara Jambi sebagai sumber pembelajaran sejarah. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 5(1), 80–88. https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Kalpa/article/view/1616/1420
- Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (2022, 7 April). Meninjau Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi, di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, 7 April 2022. Setkab.go.id. https://setkab.go.id/meninjau-kawasan-cagar-budaya-muaro-jambi-di-kabupaten-muaro-jambi-provinsi-jambi-7-april-2022/
- Sari, Y., & Suriadi, A. (2021). Nilai budaya pintu gerbang Candi Kembar Batu di Muara Jambi sebagai sumber pembelajaran sejarah di kelas XI SMA Negeri 1 Muara Sugihan. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 6(1), 22–30. https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Kalpa/article/view/1621/4675
Alliya Putri Pasla, seorang penulis yang berpengalaman pada bidang wisata kuliner, cerita rakyat, destinasi wisata, dan warisan budaya. Menyajikan konten yang informatif, edukatif, dan menarik untuk menjelajahi budaya serta tradisi Nusantara.



