Sejarah Candi Kotomahligai: Jejak Peradaban Buddha di Jantung Jambi

Sejarah Candi Kotomahligai

Sejarah Candi Kotomahligai

Sejarah Candi Kotomahligai menyimpan kisah panjang tentang agama Buddha Tantrayana di Sumatera. Candi tersebut berdiri di tepian Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Bangunan suci itu menjadi bagian dari Kompleks Percandian Muarajambi. Kawasan tersebut termasuk Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Kamu bisa menelusuri jejak arkeologis, nilai spiritual, dan lingkungan alami yang masih asri saat mengunjungi situs bersejarah tersebut.

Letak dan Administrasi Candi Kotomahligai

Candi Kotomahligai berada di Desa Danau Lamo, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Lokasi candi menempati bagian paling barat Kompleks Percandian Muarajambi. Jarak candi tersebut sekitar 900 meter dari Candi Kedaton. Sungai Terusan memisahkan kedua candi tersebut.

Pemerintah menetapkan KCBN Muarajambi sebagai warisan budaya nasional pada 30 Desember 2013. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 259/M/2013. Kawasan tersebut membentang seluas 3.981 hektare. Wilayah itu mencakup delapan desa di dua kecamatan, yaitu Muarajambi, Danau Lamo, Dusun Baru, Kemingking Luar, Kemingking Dalam, Dusun Mudo, Teluk Jambu, dan Tebat Patah.

Latar Belakang Sejarah Pembangunan Candi

Masyarakat kuno membangun kompleks percandian Muarajambi, termasuk Candi Kotomahligai, sejak abad ke-7 hingga abad ke-14 Masehi. Periode tersebut bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Melayu Kuno. Kerajaan tersebut menjadikan kawasan Batanghari sebagai pusat pendidikan agama Buddha terbesar di Asia Tenggara.

Nama “Mahligai” merujuk pada jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Makna tersebut sejalan dengan fungsi candi sebagai tempat belajar bagi biksu dan penganut Buddha tingkat lanjut. Peneliti Belanda pertama kali menemukan reruntuhan kompleks percandian Muarajambi. Pemerintah Indonesia kemudian melanjutkan proses ekskavasi. Proses tersebut berhasil mengangkat sembilan candi beserta sebuah kolam kuno bernama Talaga Rajo ke permukaan.

Gaya seni arca di Candi Kotomahligai menunjukkan kemiripan dengan arca Buddha dari Vieng Sa, sebelah utara Semenanjung Malaka. Peneliti juga menemukan kemiripan gaya tersebut pada arca-arca dari India Utara. Kemiripan gaya busana pada arca itu memperkuat dugaan bahwa budaya India Utara turut mewarnai perkembangan agama Buddha di Muarajambi pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

Struktur dan Arsitektur Candi Kotomahligai

Sebuah tembok pagar berukuran 97,5 x 120 meter mengelilingi kompleks Candi Kotomahligai. Ukuran tersebut mengikuti pola arsitektur candi-candi lain di Muarajambi. Tembok itu membagi ruang candi induk dan area mandapa di bagian timur.

Gundukan candi induk berukuran 20 x 20 meter. Candi perwara atau candi pengiring berukuran 20 x 15 meter. Kedua bangunan tersebut berada di tengah halaman kompleks. Lumut hijau tebal menutupi kedua reruntuhan itu karena proses ekskavasi belum berlangsung secara menyeluruh. Kontur tanah pada halaman kompleks menunjukkan pembagian ruang. Peneliti menduga bangunan induk dahulu memiliki fungsi ganda sebagai tempat ibadah sekaligus permukiman.

Kanal-kanal kuno mengelilingi Candi Kotomahligai. Jaringan kanal tersebut menghubungkan candi tersebut dengan candi-candi lain di kompleks Muarajambi. Sebuah parit kecil di sekitar rawa juga menyambung ke Parit Amburanjalo. Parit itu berjarak sekitar 300 meter ke arah timur.

Temuan Arkeologis: Arca Gajah dan Arca Buddha

Tim arkeolog menemukan dua arca gajah di lingkungan Candi Kotomahligai. Mereka juga menemukan 16 fragmen arca batu di lokasi yang sama. Bentuk arca gajah tersebut menyerupai arca gajah dari Candi Gedong I. Kemiripan itu menunjukkan pola budaya yang konsisten di seluruh kompleks Muarajambi.

Tim arkeolog juga menemukan tiga arca Buddha dari batu, meski kondisinya sudah rusak. Arkeolog Schnitger pada tahun 1937 memperkirakan usia arca tersebut. Ia menduga arca itu berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi berdasarkan gaya seni pakaian pada arca. Temuan arca Buddha itu menjadi bukti kuat identitas religi masyarakat pendukung bangunan suci Kotomahligai pada masa lampau.

Ekosistem dan Suasana di Sekitar Candi

Rawa, kanal kuno, dan hutan belukar mengelilingi Candi Kotomahligai. Kondisi tersebut menciptakan suasana yang jauh berbeda dari candi-candi lain di kompleks Muarajambi, meski jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Kebun duku, durian, karet, dan jengkol tumbuh subur di sekitar area candi. Kebun-kebun itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Sebatang pohon kundu atau pohon sialang (Koompassia excelsa) tumbuh menjulang di area Candi Kotomahligai. Usia pohon raksasa itu diperkirakan mencapai 600 hingga 700 tahun. Akarnya bisa mencapai ukuran 5 hingga 6 meter. Enam orang dewasa perlu bergandengan tangan untuk mengelilingi akar sebesar itu. Masyarakat setempat menyebut pohon tersebut sebagai “pohon madu”. Ribuan lebah kerap membangun sarang di dahan-dahannya. Warga biasa memanjat tangga kayu untuk memanen madu dari sarang tersebut.

Banyak pengunjung mengaku merasakan keheningan dan kesejukan yang jarang mereka temukan di destinasi wisata sejarah lain. Suasana rawa yang lembap berpadu dengan pepohonan raksasa. Perpaduan itu memberi kesan seperti memasuki hutan purba yang tersembunyi dari keramaian kota.

Tabel Informasi Singkat Candi Kotomahligai

AspekKeterangan
LokasiDesa Danau Lamo, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi
KawasanBagian dari KCBN Muarajambi (luas 3.981 hektare)
Periode pembangunanAbad ke-7 hingga ke-14 Masehi
AgamaBuddha Tantrayana
Ukuran tembok pagar97,5 x 120 meter
Jarak dari Candi KedatonSekitar 900 meter
Temuan utamaDua arca gajah, 16 fragmen arca batu, tiga arca Buddha
Vegetasi khasPohon kundu (Koompassia excelsa), duku, durian
Status penetapanSK Mendikbud Nomor 259/M/2013, 30 Desember 2013
Harga tiket masukBelum ada biaya resmi

Cara Menuju dan Tips Berkunjung

Kamu memerlukan sepeda motor atau sepeda sewaan untuk mencapai Candi Kotomahligai. Akses jalan menuju lokasi masih berupa jalan setapak dan jembatan kecil yang melintasi kanal. Sebaiknya kamu mengenakan pakaian lengan panjang. Bawa juga lotion anti-nyamuk, karena area sekitar candi berupa rawa dan hutan belukar.

Berikut beberapa tips agar kunjungan kamu ke Candi Kotomahligai terasa nyaman:

  • Nikmati buah duku musiman langsung dari pohonnya, namun jangan membawa pulang buah tersebut.
  • Bawa kembali sampah yang kamu hasilkan, sebab kawasan candi tidak menyediakan tempat sampah.
  • Gunakan toilet sebelum berangkat, karena lokasi belum memiliki fasilitas toilet.
  • Datang pada pagi atau sore hari agar kamu terhindar dari cuaca terik.
  • Ajak pemandu lokal supaya kamu mendapatkan cerita sejarah yang lebih mendalam.

Mengapa Candi Kotomahligai Layak Kamu Kunjungi?

Candi Kotomahligai menawarkan pengalaman berbeda dari wisata sejarah pada umumnya. Kamu akan menyaksikan proses ekskavasi yang belum rampung. Kamu juga akan merasakan kedekatan langsung dengan alam liar Sumatera. Kombinasi nilai arkeologis, spiritualitas Buddha kuno, dan kekayaan hayati menjadikan situs tersebut destinasi edukatif yang sarat makna sejarah bangsa.

Jika kamu tertarik memperdalam wawasan tentang peradaban Melayu Kuno, luangkan waktu menjelajahi seluruh kompleks Muarajambi. Kompleks itu mencakup Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kedaton, dan Candi Astano. Jaringan kanal purba menghubungkan seluruh candi tersebut satu sama lain.

Bagikan artikel tersebut kepada teman atau keluarga yang menyukai wisata sejarah. Ajak mereka menjelajahi kekayaan peradaban Buddha di Jambi secara langsung. Semakin banyak orang mengenal Candi Kotomahligai, semakin besar pula upaya pelestarian warisan budaya bangsa dapat terwujud.

Sejarah Candi Kotomahligai membuktikan bahwa peradaban Buddha di Nusantara pernah tumbuh subur jauh sebelum nama Indonesia dikenal dunia. Reruntuhan yang masih terkubur itu menjadi pengingat abadi tentang kebesaran leluhur bangsa.

Baca juga:

FAQ

1. Di mana lokasi Candi Kotomahligai?

Candi Kotomahligai berada di Desa Danau Lamo, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 900 meter dari Candi Kedaton.

2. Kapan Candi Kotomahligai dibangun?

Masyarakat kuno membangun candi tersebut antara abad ke-7 hingga ke-14 Masehi, sejalan dengan masa kejayaan Kerajaan Melayu Kuno.

3. Apa fungsi Candi Kotomahligai pada masa lampau?

Candi tersebut berfungsi sebagai pusat pendidikan dan tempat ibadah agama Buddha Tantrayana bagi biksu dan penganut Buddha tingkat lanjut.

4. Apa saja temuan arkeologis penting di Candi Kotomahligai?

Arkeolog menemukan dua arca gajah, 16 fragmen arca batu, dan tiga arca Buddha yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

5. Berapa harga tiket masuk Candi Kotomahligai?

Pengelola belum menerapkan biaya tiket resmi untuk memasuki kawasan Candi Kotomahligai, meski pengunjung tetap perlu mematuhi aturan setempat.

Referensi

  1. Adi, A. M. W., Izza, N. A., Rohiq, M., & Rahariyoso, D. (2024). Local collective memories of the waterscape transformation in Muarajambi Temple Complex. Berkala Arkeologi, 42(2), 111–136. https://doi.org/10.30883/jba.v42i2.974
  2. Rifqi, M., Dewi, I. K., & Leihitu, I. (2024). Interpretasi struktur di Menapo Sungai Melayu II, Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi: Penerapan metode konfigurasi Wenner. Berkala Arkeologi, 43(2), 135–154. https://ejournal.brin.go.id/berkalaarkeologi/article/view/1981
  3. Sadzali, A. M., Munandar, A. A., Purwanti, R., Akbar, A., & Andhifani, W. R. (2025). Healthy living behavior of residents of the Muarajambi Temple compound in the 7th to 11th centuries AD. Berkala Arkeologi, 45(2), 171–186. https://doi.org/10.55981/jba.2025.9189
  4. Sadzali, A. M., Bahar, M., Rosadi, B., Fazri, A., Wadhah, A., & Emafri, W. (2023). Empowerment and development of biodiversity assets as natural parks and educational tourism destinations at KCBN Muarajambi through the MBKM program of Universitas Jambi. Proceedings of the 4th Green Development International Conference (GDIC 2022), 867–875. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-110-4_86
  5. Susanti, T., Musyaddad, K., Oryza, D., Utami, W., & Arsyad, M. (2020). Tumbuhan khas di kawasan Candi Muaro Jambi dalam kajian etnobotani dan potensi ekonomi. Al-Kauniyah: Jurnal Biologi, 13(2), 192–208. https://doi.org/10.15408/kauniyah.v13i1.13348
Scroll to Top