Kolam Telago Rajo: Sejarah, Fungsi, dan Lokasi di Muaro Jambi

Kolam Telago Rajo

Kolam Telago Rajo

Kolam Telago Rajo merupakan salah satu peninggalan arkeologi paling penting di kompleks percandian Muaro Jambi. Situs tersebut berada di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Berbeda dari kebanyakan situs kuno lain, kolam tersebut ternyata masih memegang fungsi nyata bagi masyarakat sekitar hingga hari ini. Oleh karena itu, kamu akan menemukan perpaduan unik antara rekayasa hidrologi kuno, kepercayaan spiritual, dan kearifan lokal ketika menelusuri kisah kolam bersejarah tersebut.

Selanjutnya, Alliya akan mengulas asal-usul, karakteristik fisik, dan fungsi sosial-religius Kolam Telago Rajo. Selain itu, kamu juga akan mengenal posisi kolam tersebut di tengah kompleks percandian terluas di Asia Tenggara.

Sejarah dan Penemuan Kolam Telago Rajo

Pada dasarnya, tim arkeolog menemukan Kolam Telago Rajo pada pertengahan tahun 1970-an. Penemuan tersebut terjadi saat penelitian kompleks Candi Muaro Jambi mulai digalakkan. Selanjutnya, para peneliti meyakini leluhur masyarakat setempat membangun kolam tersebut pada masa kejayaan peradaban Melayu Kuno. Dengan kata lain, pembangunan kolam berlangsung seiring pendirian candi-candi di kawasan itu.

Hingga kini, para ahli belum menemukan kepastian tunggal mengenai fungsi awal kolam bersejarah tersebut. Oleh sebab itu, peneliti masih membutuhkan riset lanjutan untuk mengungkap kegunaan pastinya secara utuh. Meski begitu, indikasi kuat tetap mengarah pada peran kolam sebagai reservoar air bagi kehidupan masyarakat kuno.

Lokasi dan Karakteristik Fisik Kolam Telago Rajo

Secara geografis, Kolam Telago Rajo terletak sekitar 100 meter di sebelah tenggara Candi Gumpung. Selain itu, jaraknya sekitar 170 meter di sebelah selatan Candi Tinggi. Secara astronomis, situs tersebut berada pada koordinat 01°28’41,6″ LS dan 103°40’8,0″ BT.

Berikut rincian karakteristik fisik kolam yang perlu kamu ketahui:

AspekKeterangan
Luas areal130 x 100 meter
Kedalaman dari permukaan tanah2 – 3 meter
Kedalaman dari puncak tanggul sekeliling3 – 4 meter
Tahun penemuanPertengahan 1970-an
Jarak dari Candi Gumpung100 meter (tenggara)
Jarak dari Candi Tinggi170 meter (selatan)
Koordinat01°28’41,6″ LS, 103°40’8,0″ BT
Instansi pengelolaDirektorat Jenderal Kebudayaan

Dengan demikian, ukuran raksasa serta kedalaman kolam menunjukkan tingkat perencanaan tata air yang matang. Oleh karena itu, leluhur setempat sengaja meninggikan struktur tanggul di sekeliling kolam. Tujuannya jelas, yaitu mencegah air meluap ke area percandian.

Fungsi Kolam Telago Rajo bagi Masyarakat Masa Lalu

1. Sebagai Waduk dan Tanggul Alami

Terkait hal tersebut, Abdul Havis, praktisi budaya di kawasan Candi Muaro Jambi yang akrab disapa Ahok, menjelaskan asal-usul kolam. Menurutnya, masyarakat kuno sengaja membangun Kolam Telago Rajo lebih tinggi daripada permukaan air di sekitarnya. Dengan begitu, rancangan tersebut mencegah luapan air menggenangi kompleks percandian. Lebih lanjut, Ahok menambahkan bahwa kawasan tersebut termasuk tanggul alam hasil sedimentasi panjang. Karena itu, kolam berfungsi ganda sebagai penyekat sekaligus penampung air.

2. Sebagai Indikator Pasang Surut Sungai Batanghari

Salah satu keunikan kolam bersejarah tersebut terletak pada fungsinya sebagai alat pemantau kondisi Sungai Batanghari. Sebagai contoh, masyarakat dahulu cukup mengamati permukaan air kolam untuk mengetahui kondisi sungai. Dengan kata lain, mereka tidak perlu mendatangi Sungai Batanghari secara langsung. Ketika air sungai naik, permukaan air kolam pun ikut naik secara bersamaan. Sampai sekarang, kebiasaan memantau ketinggian air lewat kolam tersebut masih berlangsung. Akibatnya, praktik itu menjadikan kolam semacam sistem peringatan dini tradisional yang tetap relevan.

3. Sebagai Tempat Bersuci dan Sumber Air Bersih

Pada masa lampau, masyarakat memanfaatkan kolam tersebut sebagai tempat membersihkan diri. Selain itu, warga juga mengandalkan kolam sebagai sumber air bersih sehari-hari. Dengan demikian, fungsi domestik tersebut memperlihatkan peran ganda situs bersejarah itu. Jadi, kolam tidak semata berperan simbolis, tetapi juga menopang aktivitas hidup keseharian penduduk sekitar candi.

Makna Religius dan Simbolisme Kolam Telago Rajo

Dalam ajaran Buddha, umat kerap memaknai kolam sebagai representasi samudera. Selain itu, konsep tersebut juga melambangkan harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos. Oleh karena itu, sejumlah peneliti menduga Kolam Telago Rajo memiliki dimensi religius. Dugaan tersebut pun selaras dengan fungsi Candi Gumpung dan Candi Tinggi yang berdekatan sebagai tempat ibadah umat Buddha pada masanya.

Meski demikian, peneliti belum membuktikan indikasi religius tersebut secara pasti. Bahkan, beberapa kemungkinan lain tetap terbuka. Sebagai contoh, kolam mungkin awalnya berfungsi sebagai fasilitas umum untuk pemenuhan air bersih masyarakat, bukan semata sarana ritual. Pada akhirnya, kombinasi fungsi praktis dan spiritual itulah yang membuat kolam bersejarah tersebut istimewa. Singkatnya, kolam melayani kebutuhan jasmani sekaligus menyimpan nilai kosmologis yang dalam.

Kolam Telago Rajo dalam Kompleks Percandian Muaro Jambi

Secara umum, Kolam Telago Rajo merupakan satu dari tiga kolam purbakala di Situs Candi Muaro Jambi. Dua kolam lainnya berada di lingkungan Candi Gumpung dan Candi Tinggi. Ketiga kolam tersebut memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas sosial masyarakat pada masa lampau. Selain itu, ketiganya juga berkaitan erat dengan kegiatan religi masyarakat kala itu. Alhasil, kaitan tersebut membentuk satu kesatuan tata ruang sakral sekaligus fungsional.

Ada pula fenomena menarik lain yang perlu kamu catat. Sepanjang musim kemarau, kolam tersebut tidak pernah mengalami kekeringan. Sebaliknya, saat musim penghujan tiba, kolam itu juga tidak pernah meluap membanjiri kawasan sekitar. Kestabilan volume air tersebut memperkuat satu dugaan penting. Dengan kata lain, leluhur kemungkinan besar merancang sistem tata air kompleks percandian Muaro Jambi dengan perhitungan hidrologi yang sangat cermat.

Pelestarian Kolam Telago Rajo hingga Kini

Sampai saat ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan mengambil tanggung jawab penuh atas pemeliharaan Kolam Telago Rajo. Selain itu, instansi tersebut juga merawat kolam secara berkala. Upaya pelestarian mencakup perlindungan struktur fisik kolam. Tidak hanya itu, upaya tersebut juga mencakup penjagaan fungsi sosial-budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Sejalan dengan itu, masyarakat setempat turut menjaga warisan leluhur berupa kearifan tata air. Bahkan, mereka juga mempertahankan tradisi memantau pasang surut Batanghari serta nilai spiritual peninggalan Buddha lintas generasi.

Sudah sepatutnya kekayaan sejarah seperti Kolam Telago Rajo mendapat perhatian lebih luas. Oleh karena itu, bagikan artikel tersebut kepada teman atau keluarga yang gemar menjelajahi situs bersejarah. Selanjutnya, ajak mereka mengunjungi langsung kompleks Candi Muaro Jambi. Di sana, kamu bisa merasakan sendiri suasana kolam purbakala yang masih berdenyut hingga kini. Setelah berkunjung, tuliskan juga pendapat atau pengalamanmu di kolom komentar.

Pada akhirnya, Kolam Telago Rajo membuktikan bahwa kearifan leluhur mampu bertahan melewati berabad-abad. Warisan itu mengajarkan generasi masa kini cara hidup berdampingan dengan alam. Sekaligus, warisan itu mengajarkan cara menjaga budaya agar tetap bernapas.

Baca juga:

FAQ

1. Di mana lokasi Kolam Telago Rajo?

Kolam Telago Rajo berada di kompleks percandian Muaro Jambi, Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Tepatnya, lokasi tersebut berada 100 meter tenggara Candi Gumpung dan 170 meter selatan Candi Tinggi.

2. Berapa luas dan kedalaman Kolam Telago Rajo?

Kolam tersebut memiliki luas areal 130 x 100 meter. Kedalamannya sekitar 2 sampai 3 meter dari permukaan tanah. Sementara itu, jika kamu menghitung dari puncak tanggul sekeliling, kedalamannya mencapai 3 sampai 4 meter.

3. Apa fungsi utama Kolam Telago Rajo pada masa lalu?

Fungsi utamanya meliputi peran sebagai waduk pengatur ketinggian air agar tidak menggenangi kawasan candi. Selain itu, kolam juga berfungsi sebagai sumber air bersih, tempat bersuci, dan indikator pasang surut air Sungai Batanghari.

4. Kapan Kolam Telago Rajo ditemukan?

Tim arkeolog menemukan kolam bersejarah tersebut pada pertengahan tahun 1970-an, bersamaan dengan penelitian kompleks Candi Muaro Jambi.

5. Apakah Kolam Telago Rajo memiliki makna religius?

Sejumlah peneliti menduga kolam tersebut menyimpan makna religius. Mereka mengaitkannya dengan simbol makrokosmik dan mikrokosmik dalam ajaran Buddha. Namun demikian, peneliti belum membuktikan kebenaran indikasi tersebut secara pasti dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Referensi

  1. Sugiarto, B., Muslim, D., Haryanto, I., Zakaria, Z., Sukiyah, E., Isnaniawardhani, V., Wirakusumah, A. D., & Rachmat, H. (2020). Geophysical forensic for archaeological exploration in Muarojambi, Indonesia. Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, 5(3), 221–230. https://doi.org/10.21009/SPEKTRA.053.06 
  2. Manajemen Konservasi Iktiofauna di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi. (2026). Al-Kauniyah: Jurnal Biologi19(2), 218-230. https://doi.org/10.15408/kauniyah.v19i2.42701
  3. Haryuatmanto, G. (2023). Analysis of airborne LiDAR data for archaeology study case: Sriwijaya Muaro Jambi site. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1127, 012019. https://www.semanticscholar.org/paper/472f2b0b6072c5fc52817b11bdbef58c5c0cf798
  4. Alfajri, A. F. (2023). Rencana pengelolaan kawasan wisata Candi Muaro Jambi sebagai kawasan strategis nasional [Skripsi, Universitas Tarumanagara]. Repository UNTAR. http://repository.untar.ac.id/id/eprint/41941/
Scroll to Top